Title:
Suffocating Shadows
Fandom:
Kuroko no Basket (I don’t own it, unfortunately orz #eh)
Pairing:
hm, just hints I think orz (MuraHi)
Genre:
…I don’t even… orz bittersweet angst,
maybe? #whacked
AN:
Timeline… what is timeline? *bitter laugh* #whacked mungkin OOC orz, natz udah
lama nggak nulis jadi ‘feel’nya mungkin jadi hambar orz, plus plotnya
berantakan, bahasanya berantakan amg! orzz
“Tatsuya! Play one game with me!”
–Kagami yang beranjak remaja menatap dengan mata bening semangat yang
menyilaukan.
“…Tatsuya, sorry, I won’t play
with you anymore…” Ekspresi Kagami remaja tidak bisa diungkapkan dengan
satu kata: bola mata berkabut yang bergulir ke bawah terkesan meremehkan, tapi
di sana terbias kesedihan yang meleleh dalam kekecewaan. “I’ll go. Until
then…” Kagami berbalik; punggung bidang menjauh menuju kegelapan pekat.
Kemudian, sebelum benar-benar
tertelan oleh kepekatan, punggung bidang itu perlahan seolah berbias berubah
menjadi lebih tinggi. Murasakibara
mengangkat satu tangan. “Tetaplah membusuk di sana, Murochin” Nada malasnya
tetap sama seperti biasa, namun sedikit lebih dingin.
Himuro terkesiap. Marah, ia mencoba
untuk mengejar sosok yang berjalan seolah melebur perlahan dengan kegelapan
yang hitam. Ia menggerakkan otot kakinya namun impuls yang dikirimkan otaknya
terpental begitu saja oleh kekebasan. Kakinya kini bukan hanya miliknya
sendiri, ada selubung bayangan yang menyelimuti, merayap mendominasi. Mata
Himuro terbelalak panik ketika bayangan hitam itu telah menguasai setengah
badannya. Ia akan membusuk di sana.
Kepala ditolakkan ke depan,
diharapkannya sosok itu masih ada tetapi hanya kegelapan yang menyapanya;
kehampaan yang menghancurkan. Himuro masih berusaha untuk enyah dari tempatnya
berpijak, lepas dari belenggu bayangan yang makin menyesakkan. Ia tidak ingin
terus berada di sana. Ia… ia juga ingin…
Satu tangan yang direntangkan ke
depan bergetar hebat kekesalan yang membuncah. Mata terpejam dalam keputusasaan
sementara titik air mata mulai bergulir dari sudutnya. Mulut terbuka,
berteriak—
!!
Tidak ada kegelapan yang pekat.
Langit-langit remang yang ditatapnya hanya membisu, hampir seolah mengejek dengan
keangkuhan yang dingin pada sosoknya sekarang (terengah, berkeringat hebat,
ekspresi kalut, serta kedua tangan meremas tepian selimut dengan kuat).
Mimpi.
Himuro melepas salah satu
genggamannya dari selimut, meletakkan punggung tangan itu menutup kedua
matanya. Ia tertawa kecil, pahit dan meremehkan, tapi itu tidak berlangsung
lama karena bibir itu tiba-tiba membentuk garis horizontal dan rahang itu
menguat, hampir membuat giginya bergemeretak. Akan tetapi ekspresi melankolis
seperti itu pun akhirnya terurai dengan cepat ketika indera pendengarnya
menangkap dengung getaran.
Dengan satu tangan, Himuro meraih
ponsel. Kaget, benda itu hampir jatuh dari tangannya. Di LCD ada pesan masuk,
menampakkan nama pengirim: Kagami Taiga. Jari ditekan pada satu tombol, ia
menatap pesan dari ‘adik’nya, membacanya (dengan perasaan yang hampir mirip
‘cemas’). Isi pesan itu singkat; ucapan selamat pagi, foto makanan yang dimasak
Taiga, ditambah emoji bersemangat yang sangat terkesan hangat. Itu hanya pesan biasa,
konyol dan biasa.
Pikiran Himuro tertahan di sana
beberapa detik; kosong. Kemudian ia
tertawa, terbahak keras walau jelas ironi mengendap-endap di antara nada
tawanya. Himuro tahu ia tidak menertawakan apapun. Apa yang harus ditertawakan?
Situasi absurd ini? Atau fakta bahwa kini ia ditertawakan oleh sekelebat
mimpi? Atau itu justru dirinya sendiri?
~*+*~
Gaung langkah terdengar lebih pekat
di salah satu koridor sekolah yang mulai sepi.
“Murochin…”
Belum sempat Himuro menoleh ke
pemilik suara yang sangat dikenalnya itu, beban berat sudah hinggap di punggung.
Helaan napas menyelip lolos melalui celah samar bibir Himuro ketika matanya
menangkap beberapa helai rambut ungu menggantung di sisi kepala.
“Atsushi… berat…” Itu tampak seperti
geraman walau Himuro tidak sepenuhnya marah.
“Un… Sebentar saja… Aku capek…”
Murasakibara hanya menggumam, tidak mengindahkan fakta kalau ia bersandar pada
‘sesuatu’ yang sama sekali tidak lebih tinggi darinya dan juga tidak perduli
kalau sandarannya menyisipkan keluhan agar ia tidak bermanja dengan cara begitu
karena bisa membuat seseorang mengalami sakit punggung akut mendadak.
Himuro tersenyum, menepuk lembut
kepala Murasakibara. “Sebentar lagi latihan kan? Lagipula, saat pelajaran kau pasti
hanya duduk—“
“Tapi capek”
“Atsushi” Nada itu terdengar
seperti seorang Ibu yang mengingatkan anaknya dengan kelembutan yang tegas.
Beban berat di punggung langsung menghilang. Himuro berbalik, sedikit mendongak
menatap cowok yang kini merengut itu. Ia tersenyum. “Ayo latihan”
Kerutan di alis Murasakibara
menjadi dalam. “Murochin nggak asyik” Bibirnya membentuk kerucutan merajuk
seperti anak kecil. Ia melangkah lebar, melewati Himuro sambil menggerutu dalam
bisikan tidak jelas, namun bisikan itu menjadi lebih vokal ketika Murasakibara
berkata (tanpa menoleh), “Aku nggak mau sama Murochin lagi”—nada malas yang
biasa.
Namun, perkataan (yang seharusnya
biasa dan selalu membuat Himuro menyunggingkan senyum) itu menghantam kesadaran
Himuro tiba-tiba seperti badai, dan ia seolah bisa mendengar gema ‘Tetaplah
membusuk di sana, Murochin’ meraung memenuhi otaknya. Bahkan, Himuro seolah
bisa melihat ilusi mata Taiga yang meremehkan, lambaian malas Murasakibara yang
seolah mengejek. Tidak, ia tidak ingin begitu. Ia juga—
Tidak seperti dalam mimpi, kali itu
impuls yang dikirim otak diterima sangat baik oleh otot kakinya. Himuro
melesat, merentangkan satu tangan ke arah punggung bidang yang menjauh itu. “…!”
Tetapi ternyata mimpi belum sepenuhnya enyah karena pita suara seperti tercekik
selubungan bayang yang ingin mendominasi semuanya; mendominasi dirinya.
Jemari Himuro meraih lengan baju
Murasakibara yang terhenti langkahnya. Dan otomatis, Himuro pun berhenti di
sana tapi tidak melepaskan genggaman dari lengan baju cowok berambut ungu itu.
“Murochin?” Murasakibara
menelengkan kepala dengan ekspresi tanya. Tidak ada tanggapan dan ia hanya bisa
menunggu sambil menatap kepala yang menunduk (tirai rambut hitam menyembunyikan
ekspresi apapun) dan genggaman di lengan bajunya yang kini seolah menguat;
tangan Himuro bergetar. Dan itu membuat Murasakibara sedikit terhenyak. Ia
bingung dan kaget, sama seperti ketika pertama kali menatap bulir-bulir air
mata Himuro yang berjatuhan dan ekspresi menyakitkan cowok itu saat
menghujaninya dengan riuh kata-kata kekesalan yang hampir berupa gerutuan penuh
keputusasaan. Murasakibara tidak suka.
Dengan tangan yang lain, cowok
berambut ungu itu melepas paksa genggaman Himuro dari lengan bajunya, membalikkan
situasi menjadi ia yang kini menggenggam erat pergelangan tangan cowok yang
lebih tua itu. Himuro menyisipkan desis kesakitan karena genggaman Murasakibara
tidak main-main.
“Atsushi, it hurts—“
“Salah Murochin sendiri”
Murasakibara menanggapi dengan dingin. “Kenapa melakukan hal seperti tadi?
Murochin bahkan nggak jawab ketika aku tanya” Genggaman makin erat, menandakan
keputusasaan yang sedikit demi sedikit merayap menguasai emosi karena lawan bicaranya
tak kunjung menatap balik. Murasakibara, jauh di dalam hati, sebenarnya tidak
mengharapkan situasi seperti sekarang, tapi emosi mengaburkan kesadaran diri.
“…!”
“Aku nggak pernah ngerti Murochin.
Makanya, aku nggak suka kalau Murochin mulai melakukan hal-hal yang nggak bisa
kupahami. Aku nggak suka!” Ya, Murasakibara tidak pernah menyukai sisi Himuro
yang seperti itu. Spontanitas yang kadang kala mengagetkan serta seringkali
menyesakkan karena terlalu tidak terduga: ingatan akan bulir-bulir air mata
menggerogoti benak Murasakibara. Ia membenci itu.
Terpengaruh oleh ketajaman
kata-kata, Himuro menggemeretakkan gigi kesal. Tangan lain tergenggam membentuk
kepalan, tapi sesaat Himuro membatalkan niat dan alih-alih tanpa ampun
menginjak kaki cowok berambut ungu itu (tapi tidak cukup keras untuk meremukkan,
tentu saja). “I SAID IT HURT!”
“ITEE! KUSO!”
Murasakibara berteriak marah, melepaskan genggaman tangan dari pergelangan
Himuro. Ia menatap Himuro (yang masih menundukkan kepalanya) kesal, lalu
berjongkok menyentuh ujung sepatunya yang kini agak kotor (dalam hati, ia yakin
kakinya memerah sekarang). Perlahan keruh emosi mulai meluruh dari pikiran
cowok tinggi besar itu, membuatnya merasa sedikit bersalah. Hanya sedikit,
karena menurutnya yang paling bersalah saat ini adalah cowok di dekatnya itu.
Himuro seolah tersadar. Ilusi mimpi
berberai menjauh dari dirinya. “…Warui…”
“…” Murasakibara hanya merengut.
Himuro terdiam, menyentuh
pergelangan tangannya yang memerah dan masih terasa kebas. “Ayo latihan” Ia
memaksakan senyum.
“Nggak mau”
“…”
“…” Murasakibara menunduk, dagunya
dibenamkan di antara lutut. “Murochin salah—“
“Aku sudah minta maaf—“
“Aku hanya ingin tahu,” potong
Murasakibara dengan suara agak keras. Himuro otomatis bungkam. “Aku hanya ingin Murochin bilang padaku,
memarahiku seperti waktu pertandingan itu walau aku tetap nggak akan suka yang
seperti itu. Tapi aku lebih benci kalau Murochin cuma diam. Yang tadi itu
mengagetkan tahu” Berhenti sejenak, cowok berambut ungu itu menunduk lebih
dalam, menekankan keningnya ke atas lutut. “…Karena candaanku yang bilang aku
nggak mau sama Murochin lagi? Kalau karena itu… maaf” Kalimat itu berakhir
dengan gumaman penyesalan.
“Atsushi…” Suara Himuro agak
bergetar. “Aku—“
“Tapi Murochin tetap salah!”
Murasakibara tiba-tiba mendongak, melemparkan pandangan tajam. “Seharusnya
Murochin tahu kalau itu cuma candaan! Karena aku—“ Murasakibara sedikit membelalakkan
matanya, tertahan dengan apa yang akan diungkapkannya. Namun, tampaknya tidak
ada keinginan untuk menghentikan kalimatnya sampai di sana, karena itu ia
melanjutkan (kali ini dengan ekspresi yang lebih lembut seolah perlahan menyamarkan
gurat kekanakan di wajahnya menggantikannya dengan ekspresi dewasa yang hampir
asing), “Aku suka Murochin, jadi aku nggak mungkin nggak mau lagi sama
Murochin”
Himuro terpaku di sana, menatap
Atsushi dengan kekagetan yang nyata. Ia mengerjapkan mata beberapa kali.
“Atsushi—“ Tapi pandangan mata tajam Murasakibara menandakan kalau itu memang
bukan candaannya yang lain. Mengapa ironi ini harus terus berlanjut? Mengapa
harus ironi yang seperti itu? Terlalu menyakitkan. Terlalu tidak adil.
Menghela napas dan sedikit
menertawakan diri sendiri dalam hati, Himuro menunduk sebentar lalu mendongak
kembali, menatap Atsushi yang masih berjongkok di sana dengan ekspresi lembut
yang biasanya. “Aku juga suka Atsushi. Kau teman yang baik” Kalimat itu manis
tapi terdengar tanpa makna. Himuro melangkah, menepuk pundak Atsushi. “Ayo
latihan”
Dan Murasakibara hanya bisa
mendengus kesal.
~*+*~
“Eh? Ijin?”
“Maaf” Himuro menangkupkan kedua
telapak tangannya dengan ekspresi antara menyesal dan memohon. “Aku benar-benar
harus ke sana. Ini mendesak! Tolonglah!”
“…hmm, kau baru minta ijin sekali
ini. Jadi mungkin tidak apa-apa kalau kamu bisa maksimal kembali besok pagi
sebelum waktu sarapan?”
Himuro tersenyum. “Thanks, Ketua Asrama! Nanti pasti kubawakan oleh-oleh”
“Hahaha, bisa saja kau menyogok!”
~*+*~
Tok! Tok!
“Muroochiiin~ “ Murasakibara
terhenti, mengernyit kemudian mengetuk lagi. “Murochin, aku bawa game baru, ayo
main” Tidak ada jawaban. Ia mendadak
kesal dan menggedor pintunya. “Murochin! Murochin! Murochin! Murochin!—“
“Hei, kau! Kau Murasakibara kan?”
Gedoran terhenti. Murasakibara
menoleh dan menatap agak tajam pada cowok yang diingat-ingatnya adalah Ketua
Asrama. “Apa?” Nada yang sama sekali tidak ramah karena cowok berambut ungu itu
tidak menemukan alasan untuk bersikap sopan. Himuro tidak menjawab ketukannya.
Itu cukup membuatnya kesal.
“Kalau kau mencari Himuro, dia
tidak ada di kamarnya. Dia—“
Tidak mendengarkan sampai selesai,
Murasakibara langsung melangkah mendekati sang Ketua Asrama dengan aura
mengintimidasi. “Mana Murochin?”
“Makanya dengarkan sampai selesai!”
Helaan napas. “Dia tadi minta ijin untuk pergi ke Tokyo. Katanya, ada urusan
penting menyangkut klub, mungkin dia mau menyelidiki tentang tim sekolah lain…”
Tersadar. “Dia tidak memberitahumu?”
Kebohongan besar. Masako tidak
pernah bicara soal itu, bahkan sang Kapten (Agorira, tambahnya dalam hati),
atau siapapun. Walau Murasakibara tampak tidak terlalu perduli dengan kegiatan
klub, setidaknya ia pasti tahu hal-hal seperti itu. Semua selalu memberitahunya,
mengingatkannya, semua… Tidak, kebanyakan Himuro yang melakukan hal itu; menjaganya
tetap berada di lingkaran itu, makanya—
“Bohong. Murochin nggak bilang
begitu,” sahut Murasakibara dengan kepercayaan diri tersirat sarat dalam
suaranya. “Kau ditipu”—diakhiri dengan seringaian mengejek, cowok bertubuh
tinggi itu melewati Ketua Asrama yang terbengong bingung, beranjak dari sana
dengan membawa kekesalan yang telah berubah menjadi amarah karena ia pun merasa
terkhianati.
“Murochin, kuso!” Gerutuan
terselip di antara gigi yang beradu. Dalam pikirannya, wajah Himuro yang
tersenyum seolah ingin ia cabik-cabik—
Kelebat bayangan kejadian di
koridor menyergap benaknya, memercikkan sesuatu pada petunjuk samar yang hampir
bias. ‘Aku juga suka Atsushi. Kau teman yang baik’. Senyum Himuro waktu mengatakannya
hampir terasa dingin karena matanya waktu itu tampak agak berkabut.
Murasakibara mengatupkan rahang
kuat-kuat. Gigi bergemeretak dalam kekesalan. Ia mengeluarkan rutukan tidak
jelas sambil merogoh saku celana jersey-nya
dan mendapati di sana hanya ada tumpukan permen. Telepon genggamnya masih ada
di kamar.
“KUSO!” Murasakibara
menendang dinding di dekatnya, hampir mengabaikan rasa sakit kebas yang seketika
menjalar melalui telapak kaki. “MUROCHIN, TEME!” Ia kembali berjalan,
lebih cepat. Ekspresinya menakutkan.
~*+*~
Semburat merah senja meleleh hilang
dalam biru-gelap langit ketika Himuro melangkahkan kaki keluar dari stasiun. Ia
mendongak dan kembali merutuk diri sendiri kenapa harus melakukan hal pengecut
seperti ini; kabur dari Murasakibara tanpa pertimbangan apapun. Lagipula,
kenapa harus ke Tokyo? Kenapa harus ke kota tempat Kagami tinggal? Menggelikan,
ejeknya kembali dalam hati.
Tanpa tujuan pasti, ia hanya bisa
kembali berjalan. Tidak ada keinginan untuk menghubungi Kagami karena ia merasa
bertemu dengannya tidak akan membuat keadaan menjadi lebih baik; tidak dengan
mimpi sialan yang menghantui serta ironi yang datang bertubi-tubi. Tidak juga
ketika ia merasa ‘kosong’ dan rapuh karena Himuro ingin selalu terlihat ‘kuat’.
Seorang ‘kakak’ tidak boleh memperlihatkan ‘kelemahan’ pada ‘adik’nya. Bukan? Kau
bukan kakaknya lagi. Ia tahu itu, tapi— “because bad habbit dies hard…” Himuro berbisik pelan, pada diri sendiri.
Setelah beberapa menit menelusuri
jalanan asing dengan orang-orang berwajah seperti topeng, Himuro sampai di sebuah
taman kota yang lengang. Kaleng jus (yang dibelinya dari vending machine terdekat
yang ditemukan di jalan) diletakkan di atas bangku sementara ia sendiri duduk sembari
merogoh saku mantel. Tanpa sengaja, ujung jarinya merasakan sensasi keras dan
dingin yang merupakan ponsel yang sedari tadi dimatikannya dengan sengaja,
tepat setelah benda itu bergetar bising di kereta tanda seseorang menghubungi;
seseorang yang belum ingin ditemuinya lagi. Cowok itu dapat membayangkan
ekspresi berbahaya Murasakibara tepat di belakang retina, merutuk, merengek,
menyalahkan Himuro karena menghindarinya. Ironis sekali, bahkan terhadap
bayangan seperti itu pun, Himuro ingin tertawa geli (tanpa beban, tanpa apapun).
Tidak mengindahkan pemikiran konyol
itu terlalu lama, Himuro beralih mengeluarkan sebungkus rokok lalu mengambil
satu batang dan menyalakannya. Asap putih-abu mengepul hanya untuk meluruh
hilang dalam udara.
Satu batang habis.
Kaleng jus dibuka, isi diteguk
setengahnya sebelum Himuro menyalakan batang rokok yang lain.
Kemudian tak lama, batang ketiga.
Himuro terbatuk pelan sebentar
kemudian melanjutkan menghisap batang keempat dengan wajah datar. Walau
ekspresi itu sudah mulai menguasai, kabut masih tampak di mata seperti selaput
transparan yang menggantung enggan enyah. Pikirnya, mungkin beberapa batang
rokok lagi akan merenggut selaput itu, menariknya bersama asap putih-abu untuk
kemudian memudar di udara, hilang.
Andai semua bisa semudah itu.
“Tatsuya?”
Rokok di tangan hampir jatuh, tapi
kekagetan itu cukup untuk menggoyangkan batang dan menjatuhkan sepercik abu ke
jarinya. Himuro meringis sedikit (karena panas, juga karena keironisan yang
seolah tidak ada habisnya mengejek).
“Why are you here?” Kagami
mengernyit, heran sekaligus kesal setelah mendapati batang rokok di tangan
Himuro. “You still deal with that shit?”
Himuro tersenyum, berdiri. “Yo,
Taiga” Ia menjejalkan begitu saja batang rokok yang baru setengah habis itu ke
dalam kaleng jus lalu menghempaskannya ke tong sampah. “Isn’t it fine? Just
few drags. In the past, you didn’t even give a damn”
“…I did warn you” Kagami
menyipitkan mata berbahaya.
“Those ramblings didn’t count
one, you know?” Himuro tersenyum. Tanpa disadari, kakinya sedikit
beringsut mundur walau jarak antara dia dengan Kagami sudah cukup lebar. Akan
tetapi, ia tahu percuma untuk pergi dari sana tanpa menjelaskan apapun walau sulur
hitam telah mulai merayap dari bayangannya sendiri; tinggal menunggu sampai belenggu
itu menghancurkannya (cepat atau lambat).
“…Ano, Kagami-Kun,” Suara Kuroko meruntuhkan
pekat dan Himuro merasa ia harus berterima kasih atas itu. “Kau sudah ada janji
dengan Himuro-San ya? Kalau begitu, biar aku saja yang menyerahkan belanjaan
ini ke Riko-San”
Kagami mengernyit, menoleh ke cowok
di sampingnya dengan agak kesal. “Kau ini nggak lihat situasi ya? Aku nggak
janjian. Tatsuya sendiri yang seenaknya ada di sini. Tadi kan aku tanya
padanya, bego!”
“Kagami-Kun tadi bicara dengan
bahasa yang tidak kumengerti. Bukan salahku. Aku tidak bodoh” Wajah datar
Kuroko membuat Kagami mengurut keningnya dengan ekspresi putus asa. Terhadap
pemandangan menggelikan seperti itu, bahkan Himuro (sekali lagi) ironisnya
ingin terbahak, tapi diurungkannya karena terlalu absurd di saat dirinya tidak sedang dalam situasi untuk berbuat
demikian. Maka, ia hanya memandang dengan keheranan yang aneh.
Kuroko tidak mengacuhkan Kagami dan
bertanya pada cowok Yosen di depannya, “Himuro-San, ada perlu?”
Sedikit kaget karena tiba-tiba
dilontari pertanyaan yang paling tidak ingin didengar saat itu, Himuro spontan melemparkan
pandangan ke samping. “…Tidak. Aku… hanya jalan-jalan saja…” Ia berharap getar
suaranya tidak kentara.
“Nanda…” Kagami menghela
napas, agak lega. “Sama si Murasaki-nantoka itu?”
Tanpa sadar, Himuro mundur sedikit.
“Tidak. Aku sendiri” Ia tersenyum tapi masih tetap menggulirkan tatapan ke
samping. Otaknya berpikir keras menemukan alasan apapun agar bisa segera pergi
dari sana. Ia menatap bayangannya yang samar-bias di tengah sorot lampu, dan
langsung tanpa basa-basi berkata, “Kalau begitu, karena ini sudah cukup larut,
aku pikir aku akan kembali sebelum kereta terakhir”
“Tunggu,” potong Kagami,
mengernyitkan alis sedikit kesal. “Kau nggak akan kemana-mana sebelum memberikan
penjelasan padaku. Tatsuya, kau pikir aku mengenalmu berapa lama?—“
Himuro terdiam dan tersenyum simpul
pada Kagami yang sekarang malah tampak kebingungan dengan ucapannya sendiri.
Kagami mengenal Himuro sudah lama, tapi Kagami tidak mengenal Himuro dengan
baik. Itu fakta. Himuro menghela napas
lalu berkata, “Tidak ada yang perlu dijelaskan. Aku memang hanya mampir ke kota
ini saja”
“Seharusnya kau memberitahuku”
“Kali ini tidak ada hubungannya
denganmu, Taiga” Himuro ingin segera pergi dari sana; segera. Ia membungkuk
sedikit pada Kuroko lalu berbalik, berjalan menjauh. “Until then, Taiga, Kuroko-Kun” Melambai, perlahan Himuro mulai
menyadari bahwa situasi ini pun tidak begitu jauh dari keironisan mimpi. Hanya sedikit
perbedaan tapi itu tidak mengubah apapun dari apa yang ingin disampaikan mimpi;
dari apa yang ingin disampaikan kecemasannya sendiri. Ia yang pergi, tapi di
saat yang bersamaan ia masih yang ‘tertinggal’. Kagami akan menjalankan
kehidupannya sendiri, ia tidak akan pernah ‘menoleh’ padanya lagi, begitu pula
Murasakibara—
Rasa dingin aneh menghujam tulang
sumsumnya ketika sepasang mata malas berkelebat di benak. Himuro menatap ke
bawah, hanya ada hitam kelam; bayangannya tak tampak, cahaya menjauh. Melihat
itu membangkitkan kecemasan dari dasar hati, merayap, mencoba mencengkram
seluruh tubuhnya. Sesak, seperti bernapas dalam air, menggapai tapi diri
terbelenggu oleh hal yang tak nampak. Suaranya tidak keluar. Suaranya—
“Oi, Tatsuya!”
Himuro kaget, terhenti (air ilusi seolah
tumpah ruah ke bawah kakinya, membuatnya bisa bernapas kembali). Ia menengok ke
belakang dan dalam keremangan malam yang sudah mulai menguasai, wajah tersenyum
Kagami begitu jelas seperti secercah cahaya; menyilaukan.
“Next
time, let’s play basket together!”—suara
Kagami seolah bertumpuk dengan gaung lain di kepala Himuro. “Aku suka Murochin, jadi aku nggak mungkin nggak mau lagi sama
Murochin”—apa di sana ada selisip ketulusan dan kejujuran yang tidak
disadari karena kabut menghitamkan pikiran?
Perlahan, Himuro merasakan kecemasan
menyesakkan dalam diri sirna, meleleh kembali bersama bayangan di bawahnya yang
telah menyatu dengan kelam. Sebenarnya apa yang ia cemaskan? Sebenarnya apa
yang mengerikan dari mimpi itu? Bahkan kini Himuro mulai menentang ketakutannya
sendiri. Tidak ada yang berubah. Dari awal semua itu hanya karena kontradiksi
dalam diri. Tidak ada yang berubah—
...Tidak.
Ada yang berubah, namun bukankah ia
masih ada di sana? Himuro masih ada di tempat itu, melangkah menyusuri jalan
dengan tujuan buram karena kabut. Semua juga begitu. Semua juga.
“I will!” Himuro melambai sebentar, lalu berbalik, menjejakkan kaki
ke depan dengan ringan. Ia harus meminta maaf pada Murasakibara nanti.
~*+*~
“Yo! Himuro! Cepat sekali? Hampir saja
asrama ditutup~”
Bungkusan plastik dilempar. “Untukmu,
Ketua Asrama!” Senyum simpul yang terlihat tulus; senyum Himuro yang biasanya. “Kali
ini urusannya bisa diselesaikan dengan cepat. Thanks” Ia melewati sang Ketua
sambil menepuk pundaknya sekilas; ketulusan sederhana.
“Sama-sama—ah, Himuro!”
Terhenti, cowok berambut hitam itu
menolehkan kepala yang agak ditelengkan penuh tanya.
“…ah, coba kau lihat saja sendiri di
depan kamarmu” Ketua Asrama hanya tersenyum, berjalan ke arah sebaliknya sambil
melihat-lihat ‘sogokan’ apa yang didapatnya. “Wuohohoho! Ii ne~”
Himuro mengangkat bahu sambil
kembali melangkah, menelusuri lorong dan belokan, melewati beberapa pintu kamar
yang tertutup berlabelkan nomor serta nama penghuni. Tak lama, kamarnya sudah terlihat. Ia
membesarkan mata ketika menatap sosok besar Murasakibara terduduk di depan
kamarnya, bersandar pada pintu. Kaki besar itu berselonjor hampir menghalangi
lorong. Di pangkuannya, berserakan snacks
yang sebagian besar sudah habis dimakan. Dan Murasakibara sendiri… Ia tertidur.
“…” Kedua ujung bibir Himuro
tertarik ke atas, membentuk senyuman yang lebih tulus. Matanya agak meredup
walau yang menggenang di sana bukan lagi kabut, melainkan kelembutan yang
jarang Himuro tunjukkan, bahkan pada Kagami sekalipun, atau pada Alex sekalipun,
atau siapapun selama itu.
Perlahan Himuro membungkuk,
mengulurkan tangan bermaksud untuk menyentuh kepala ungu Murasakibara,
membangunkannya. Tapi niatnya menggantung di udara, lalu menyurut kembali ke
dalam hati. Ia meneggakkan tubuh lalu menyodok kaki besar itu dengan ujung
kakinya sendiri, dan itu tidak bisa dibilang pelan.
“Ggghh…” Murasakibara mengerutkan
alis, menggeram tidak jelas. “Apa? Aku tidak akan pergi sampai Murochin
kembali, tahu?”
“Tadaima, Atsushi”
Murasakibara terhenti di sana,
mencerna suara yang sangat dikenalinya. Ia mendongak, langsung berdiri. Snacks dan sisanya berjatuhan
menimbulkan gemeresak berisik. Cowok besar itu mengernyitkan alis, bibirnya
membentuk garis horizontal. Ia jelas terlihat kesal dan bahkan terhadap itu,
Himuro tersenyum (seperti biasanya ia).
“Murochin!”
“Ya?”
Ada jeda. Murasakibara menatap
Himuro, mencari celah di wajah tersenyum menyebalkan itu. Tapi, kemarahan yang
sedari tadi membuncah kini seolah hilang entah kemana. Jelas, ia masih kesal.
Namun, rutukan yang telah disusunnya terhapus dari otak, begitu saja. Entah,
Murasakibara berpikir tidak ada gunanya juga untuk mendesak Himuro saat itu. Aku bukan anak-anak lagi.
“…um, okaeri…”
Himuro mengangguk. “Atsushi, ada
perlu denganku?”—benar-benar mengalihkan, mendorong segala ‘keanehan’, ‘kekakuan’,
‘ketidakteraturan’ ke sudut yang paling gelap lalu menguncinya sembari menarik
sekuat tenaga situasi yang ‘biasa’ ke permukaan di antara mereka.
Dan Murasakibara pun bersikap sama.
“Un… game baru…”
Senyum Himuro makin lebar. “Masuk?”
Ia memutar kunci, membuka pintu lalu melangkah, membiarkan Murasakibara
mengikutinya dari belakang dengan gemeresak karena harus mengumpulkan snacks
yang berceceran. Cowok besar itu menatap punggung Himuro, sedikit tertahan di
ambang pintu.
“…daisuki…”
Langkah Himuro berhenti. Tanpa
menoleh, ia menanggapi, “Un, ore mo suki da
yo”—selisip ketulusan lolos dari nada santai yang seolah menghilangkan
makna kata.
Tapi itu cukup.
Itu cukup.
Kabut itu pun perlahan…
9
December 2012 at 12.47 A.M
By
Natsu^^v
AMG
OTL #nguk
Tidak ada komentar:
Posting Komentar