Fandom: CCS? TRC? *shrugs* #bhuakh
Pairing: SyaoranSakura #asrequested
Genre: AU, angst
Sakura
Kusentuhkan ujung jemari yang pucat ke
bibir, perlahan dan dengan emosi yang sarat. Melalui kelopak mata yang
tertutup, proyeksi akan ujung jemarimu yang tanpa sengaja menyentuh ujung
jemariku begitu jelas sampai bisa kupahatkan kuat-kuat ke dalam kesadaranku
yang paling dalam menjadi ilusi nyata.
Itu sentuhan yang pertama, dan mungkin
yang terakhir.
Memikirkan hal tersebut, ada bongkahan
perasaan asing yang memenuhi ruang hati, mendesak dan ingin membanjiri diri
dengan badai emosi yang menenggelamkan. Dan aku hanya akan pasrah. Aku hanya
akan pasrah, seperti satu tetes air mata yang mulai meluncur menuruni lembah
pipi; hangat dan menyakitkan, tapi betapa aku tidak menyesalinya.
Aku menyukaimu.
Kata itu bahkan selalu terkunci dalam
kotak Pandora dalam hati, sengaja terabaikan di sudut kepala yang gelap dan
tabu, karena jika ia berhasil mengendap menjulurkan sekelumit wujudnya keluar melalui
getar suara, semua pasti akan berakhir: jarak di antara kita, senyumanmu yang
selalu membuatku luruh dalam kebahagiaan pahit, dan terutama mata beningmu
ketika menatapku—kebaikan yang tersirat di sana, yang hanya diriku yang
mengetahuinya; kebaikanmu yang begitu menyakitkan.
…meskipun demikian, kau tidak pernah
benar-benar melihatku. Kau menatapku tapi kau tidak pernah benar-benar
melihatku. Kau tidak pernah benar-benar melihat sekelilingmu. Ya, semuanya
bilang begitu. Yang kaulihat hanyalah bayang diri; menertawakan, mengejek,
memvonis. Yang kausentuh hanyalah bias diri; penyesalan, kebencian, rendah
diri. Yang menguar dari tindak-sikap-kata hanyalah riuh hampa karena tidak
pernah mengandung makna. Yang kaukejar hanyalah kerangka-kerangka kosong,
cermin-cermin yang membuatmu tetap berpijak; cermin diri yang kaubenci
sekaligus kaucintai. Karena itu, hanya aku yang mengetahuinya—kebaikanmu yang
begitu menyakitkan, yang tersirat dari mata beningmu ketika menatapku (walau
tidak benar-benar melihatku). Hanya aku, kerangka kosong yang tidak kauacuhkan
karena aku tidak akan pernah bisa jadi cerminmu.
Namun, aku tetap menyukaimu.
Jika tidak, kenapa aku membiarkan diri
tenggelam dalam badai emosi yang kuciptakan karenamu? Kenapa aku menciptakan
ilusi nyata di balik retina yang memproyeksikan dirimu? Kenapa aku di sini,
berusaha keras meleburkan diri ke dalam bayang yang hanya akan menghancurkanku?
Aku menyukaimu; itu menyakitkan tapi
betapa aku tidak menyesalinya.
Betapa aku tidak menyesalinya.
Betapa aku tidak menyesalinya,
meskipun memikirkan dirimu (yang tidak akan menjadikanku cermin) membuat badai
emosi makin berpusar dalam diri, bergemuruh, menghempas-hempaskan gelombang ke
dinding kerangka, berontak ingin meledak, ingin membanjiri semua dengan rasa
pedih yang alih-alih membuat nyaman dalam kegetiran.
Aku hanya ingin kaulihat.
Aku menyukaimu.
Aku hanya ingin kaulihat. Aku hanya
ingin menjadi cerminmu; hanya aku.
(Permohonan yang keluar bersama helaan
napas, hanya akan melebur dalam udara tanpa warna. Dan air mata pun makin luruh
dalam kesunyian bising oleh emosi yang berpusar bagai badai. Ia merasakan
seolah pijakannya hilang. Jatuh berlutut, tubuhnya bergetar dan ia hanya
berteriak dalam kebisuan)
Syaoran
Aku meremas helai rambut yang menjerat
tanganku ketika ciuman mendalam, mengeruhkan pikiran, meluruhkan dunia.
Sentakan napas, erangan sopran yang terselip, serta sensasi saling mendominasi
dalam mulut cukup untuk membuatku jatuh dalam kegelapan—ketiadaan di mana semua
tidak akan menjadi nyata, hanya ilusi yang kelak hanya akan kuejek dan
kutertawakan.
Kucuri udara lalu meleburkannya ke
dalam sel-sel tubuh, membaginya dengan kerangka yang menjadi cerminku sekarang,
agar aku selamanya berada dalam keasingan yang menenangkan; ketika aku hanya
menjadi diriku dan bukan yang dunia labelkan untukku—hanya sesosok manusia
terlunta-lunta dalam dunia kosong yang hanya ada batas awal dan akhir yang
jelas, tanpa atribut-atribut hampa.
Di belakang kelopak mataku, proyeksi
seringaian mengejek tampak jelas. Aku tidak perduli, bahkan ketika proyeksi itu
merupakan diriku yang lain, diriku yang seharusnya. Aku tidak perduli. Ia terus
menyeringai, membisikkan kata-kata bisu yang menggerogoti diri dari dalam. Aku
tidak keberatan demikian. Biarkanlah hancur. Kerangka ini tidak kubutuhkan
lagi.
Aku hanya ingin terbebaskan.
Aku hanya ingin terbebaskan dari
apapun yang menjeratku; dunia, kenyataan, ilusi, panca indera, kesadaran,
harapan, hukuman, dosa... diriku sendiri.
Aku hanya ingin terbebaskan; terutama
dari bayang dirimu yang terkunci dalam kotak Pandora di sudut kesadaranku.
Aku tidak mengingatmu karena ingatan
hanya akan mengoyak topeng transparan yang melekat padaku, menarik keluar
diriku yang seharusnya. Dan itu hanya akan menghancurkan dunia, karena aku
hanya akan melihatmu, mengejarmu, menyentuhmu, menarikmu ke dalam pelukan
meremukkan, dan ketika itu dunia akan luruh meleleh menuju kehampaan—menjadi kembali
tiada; dunia yang kaucintai akan hilang. Maka aku hanya meleburkanmu ke dalam
alam bawah sadarku, terkunci dalam kotak Pandora yang kuabaikan di sudut gelap
agar suatu saat ketika kita diberikan secercah kesempatan untuk terlahir
kembali, bukan ingatan yang menyesatkan namun kesadaranku sendiri yang akan
menemukanmu dalam kerangka lain. Dan mungkin, mungkin saja pada saat itu, aku
bukanlah diriku yang sekarang, aku tidak akan menjadi pendosa karena
mengharapkan hal yang seharusnya kutinggalkan—
—dirimu.
(Seketika proyeksi senyuman manis yang
pahit mendesak, memenuhi belakang kelopak mata, retina, syaraf-syaraf otak,
kemudian kerangka diri. Syaoran tersentak ketika ia ditarik keluar dari
kehampaan. Refleks, ia menjauhkan diri agar tidak hancur)
“…ada apa?”
Warna abstrak mulai menampilkan
garis-garis tegas ketika kabut dalam pikiran tersingkirkan dunia nyata; dunia
yang kukutuk selamanya. Aku hanya tersenyum, mencoba untuk memperlihatkan
sekelumit penyesalan (yang hanya berupa kekosongan karena bahkan dalam diriku
tidak tersisa apapun lagi karena dalam dunia ini aku hanya berupa kerangka
kosong yang terlabeli oleh atribut-atribut hampa).
Jemariku menguraikan rambut yang
menjerat, perlahan. Tubuhku condong sebentar agar bibirku bisa menyentuh bibirnya,
untuk terakhir kali—memberi tanda bahwa kerangka itu sudah dipakai; cerminnya
sudah rusak. Aku tahu ia mengetahuinya; hanya dijadikan cermin. Satu perca
terjahit ke kain dosa yang sudah dapat dipakai untuk menutupi duniaku dari
kebaikan pengampunan.
Biarkanlah demikian.
Biarkan, karena dosa tampak sudah
menjelmakan dirinya menjadi topeng transparan yang melekat kuat di wajah. Namun
andai kata (karena andai hanyalah akan berupa kata yang tidak bermakna). Andai
kata ada berkas pengampunan berhasil menyisipkan diri menembus topeng ini, aku
hanya ingin terbebaskan. Aku hanya ingin terbebaskan dari dirimu—dari keinginan
melihatmu, mengejarmu, menyentuhmu, menarikmu ke dalam pelukan meremukkan, dan meskipun
ketika itu dunia akan luruh meleleh menuju kehampaan—menjadi kembali tiada.
Walau dunia yang kaucintai akan hilang dan aku—kita akan tetap terampuni. Andai
kata bisa seperti itu, kembali ke ketiadaan pun tidak lagi menjadi hal yang
paling menyedihkan (karena saat itu kita akan melebur menjadi udara hampa,
bersama selamanya; tanpa keraguan, ketakutan, penderitaan, hanya kedamaian yang
menenangkan).
Tapi itu hanya andai kata.
Hanya ‘andai’.
Pikiran itu menguatkan cekikannya
dalam diriku dan aku hanya bisa tergagu, menatap pijakan dan berharap bayangan
akan merengkuhku, menyelimutiku, menjauhkanku dari dunia nyata yang tampak
kosong karena aku hanya selalu meriuhkan tanpa suara kata ‘andai’ dalam udara.
…
…namun, aku lelah.
Sudah cukup.
(Bulir air mata jatuh dalam sunyi,
perlahan meluruhkan topeng)
World’s End
Langkah demi langkah; ringan tanpa
keraguan, hanya ketetapan hati yang menjerit bisu mengharapkan pengampunan
mutlak. Jarak demi jarak terlampaui; semakin dekat. Semakin dekat; bulir-bulir
pasir meluncur deras melalui celah bagai bom waktu yang tinggal menunggu untuk
meluluhlantakkan semuanya.
Luapan emosi menghentak-hentakkan
kerangka bersama dengan degup jantung yang seolah meremukkan ketika menemukan
satu sosok; seorang gadis yang menjadi inti pusaran dunianya. Pemuda itu
terdiam di sana, tepat beberapa meter di depan punggung kecil yang bergetar
hebat karena tangis. Melihatnya, ia tahu ia tidak bisa kembali lagi, tidak
ketika ia mengetahui bahwa apapun yang dilakukan tidak akan ada pengampunan
yang menjulurkan lengan hangatnya merengkuh mereka.
Mulut memvokalkan sebuah nama.
Gadis itu terhenti, dengan ragu
menoleh pada sumber suara. Mata basahnya terbelalak (dalam lensanya terpantul
senyuman getir yang dicintainya, serta kebaikan terbiaskan). Uluran tangan
padanya membuat gadis itu perlahan mengerti. Ia kembali menangis; tangisan yang
lebih pekat oleh emosi karena akhirnya pemuda itu melihatnya. Pemuda itu
melihatnya (bukan sebagai cermin, bukan: karena apa yang menguar dari
keseluruhan eksistensi pemuda itu kini bukanlah kosong melainkan perasaan murni
tanpa atribut-atribut hampa). Ia akhirnya mengerti, karena itu ia menangis.
Mereka tidak akan diampuni. Walau
demikian, mereka tetap menyentuhkan jemari mereka; perlahan berubah menjadi
genggaman erat. Mata saling memandang, berusaha menggantikan kata-kata yang
hilang di pangkal tenggorokan yang tercekik emosi. Bibir membentuk kurva getir,
namun kebahagiaan yang mereka rasakan jauh dari perih (hanya melebur dalam
pahit).
Jarak makin dekat, bulir-bulir pasir
makin meluncur deras. Dan ketika dua kerangka mencoba untuk melebur menjadi
satu, bulir pasir terakhir jatuh dalam kesunyian yang bising; bom waktu
meledak.
Dunia berakhir, luluh lantak, meleleh,
melebur, menguap, berpusar membentuk badai debu hebat yang membutakan. Gaung ribuan
tangis luruh di dalamnya; jeritan-jeritan ketakutan, kesedihan, penderitaan yang
berharap akhir tidak datang, membuncah memenuhi udara yang mematikan (seolah
udara itu sendiri telah berubah menjadi dewa-dewa kematian dengan sabit-sabit
mereka, merenggut nyawa-nyawa dari kerangka). Di antara itu, sebuah gema asing
yang familiar terdengar:
Kalian dua kutub berseberangan;
positif dan negatif. Kalian akan tertarik satu sama lain, namun kalian tidak
boleh bersatu. Kalian penyangga dunia. Jika kalian saling meniadakan akibat
terkalahkan emosi; dunia akan hancur. Dunia akan hancur, kembali ke ketiadaan.
Sosok mereka perlahan lebur. Jiwa
merangsek keluar dari kerangka; tangan mereka masih bertautan akan tetapi badai
mengoyak, memaksa memisahkan.
—dan bahkan dalam ketiadaan pun—
Gema itu tertelan oleh bising badai
debu yang sarat jerit tangis getir menyakitkan (dua suara tangis terdengar
lebih jelas, seolah membelah pusaran udara yang makin hebat).
.owari.
By Natsu^^v on Satuday, July 13, 2013
at 6.18 a.m according to ChibiChan
AN: ahahahahaha lame ffic is lame,
seperti biasa LOL orz
Wth with this really? Natz lagi mabok
angst ß seperti biasa LOL #ngek
m(/////)m
Tidak ada komentar:
Posting Komentar