Jumat, 12 Juli 2013

(Fanfic) The World is You

Title: The World is You
Fandom: CCS? TRC? *shrugs* #bhuakh
Pairing: SyaoranSakura #asrequested
Genre: AU, angst


Sakura
Kusentuhkan ujung jemari yang pucat ke bibir, perlahan dan dengan emosi yang sarat. Melalui kelopak mata yang tertutup, proyeksi akan ujung jemarimu yang tanpa sengaja menyentuh ujung jemariku begitu jelas sampai bisa kupahatkan kuat-kuat ke dalam kesadaranku yang paling dalam menjadi ilusi nyata.

Itu sentuhan yang pertama, dan mungkin yang terakhir.

Memikirkan hal tersebut, ada bongkahan perasaan asing yang memenuhi ruang hati, mendesak dan ingin membanjiri diri dengan badai emosi yang menenggelamkan. Dan aku hanya akan pasrah. Aku hanya akan pasrah, seperti satu tetes air mata yang mulai meluncur menuruni lembah pipi; hangat dan menyakitkan, tapi betapa aku tidak menyesalinya.

Aku menyukaimu.

Kata itu bahkan selalu terkunci dalam kotak Pandora dalam hati, sengaja terabaikan di sudut kepala yang gelap dan tabu, karena jika ia berhasil mengendap menjulurkan sekelumit wujudnya keluar melalui getar suara, semua pasti akan berakhir: jarak di antara kita, senyumanmu yang selalu membuatku luruh dalam kebahagiaan pahit, dan terutama mata beningmu ketika menatapku—kebaikan yang tersirat di sana, yang hanya diriku yang mengetahuinya; kebaikanmu yang begitu menyakitkan.

…meskipun demikian, kau tidak pernah benar-benar melihatku. Kau menatapku tapi kau tidak pernah benar-benar melihatku. Kau tidak pernah benar-benar melihat sekelilingmu. Ya, semuanya bilang begitu. Yang kaulihat hanyalah bayang diri; menertawakan, mengejek, memvonis. Yang kausentuh hanyalah bias diri; penyesalan, kebencian, rendah diri. Yang menguar dari tindak-sikap-kata hanyalah riuh hampa karena tidak pernah mengandung makna. Yang kaukejar hanyalah kerangka-kerangka kosong, cermin-cermin yang membuatmu tetap berpijak; cermin diri yang kaubenci sekaligus kaucintai. Karena itu, hanya aku yang mengetahuinya—kebaikanmu yang begitu menyakitkan, yang tersirat dari mata beningmu ketika menatapku (walau tidak benar-benar melihatku). Hanya aku, kerangka kosong yang tidak kauacuhkan karena aku tidak akan pernah bisa jadi cerminmu.

Namun, aku tetap menyukaimu.

Jika tidak, kenapa aku membiarkan diri tenggelam dalam badai emosi yang kuciptakan karenamu? Kenapa aku menciptakan ilusi nyata di balik retina yang memproyeksikan dirimu? Kenapa aku di sini, berusaha keras meleburkan diri ke dalam bayang yang hanya akan menghancurkanku?

Aku menyukaimu; itu menyakitkan tapi betapa aku tidak menyesalinya.

Betapa aku tidak menyesalinya.

Betapa aku tidak menyesalinya, meskipun memikirkan dirimu (yang tidak akan menjadikanku cermin) membuat badai emosi makin berpusar dalam diri, bergemuruh, menghempas-hempaskan gelombang ke dinding kerangka, berontak ingin meledak, ingin membanjiri semua dengan rasa pedih yang alih-alih membuat nyaman dalam kegetiran.

Aku hanya ingin kaulihat.

Aku menyukaimu.

Aku hanya ingin kaulihat. Aku hanya ingin menjadi cerminmu; hanya aku.

(Permohonan yang keluar bersama helaan napas, hanya akan melebur dalam udara tanpa warna. Dan air mata pun makin luruh dalam kesunyian bising oleh emosi yang berpusar bagai badai. Ia merasakan seolah pijakannya hilang. Jatuh berlutut, tubuhnya bergetar dan ia hanya berteriak dalam kebisuan)


Syaoran
Aku meremas helai rambut yang menjerat tanganku ketika ciuman mendalam, mengeruhkan pikiran, meluruhkan dunia. Sentakan napas, erangan sopran yang terselip, serta sensasi saling mendominasi dalam mulut cukup untuk membuatku jatuh dalam kegelapan—ketiadaan di mana semua tidak akan menjadi nyata, hanya ilusi yang kelak hanya akan kuejek dan kutertawakan.

Kucuri udara lalu meleburkannya ke dalam sel-sel tubuh, membaginya dengan kerangka yang menjadi cerminku sekarang, agar aku selamanya berada dalam keasingan yang menenangkan; ketika aku hanya menjadi diriku dan bukan yang dunia labelkan untukku—hanya sesosok manusia terlunta-lunta dalam dunia kosong yang hanya ada batas awal dan akhir yang jelas, tanpa atribut-atribut hampa.

Di belakang kelopak mataku, proyeksi seringaian mengejek tampak jelas. Aku tidak perduli, bahkan ketika proyeksi itu merupakan diriku yang lain, diriku yang seharusnya. Aku tidak perduli. Ia terus menyeringai, membisikkan kata-kata bisu yang menggerogoti diri dari dalam. Aku tidak keberatan demikian. Biarkanlah hancur. Kerangka ini tidak kubutuhkan lagi.

Aku hanya ingin terbebaskan.

Aku hanya ingin terbebaskan dari apapun yang menjeratku; dunia, kenyataan, ilusi, panca indera, kesadaran, harapan, hukuman, dosa... diriku sendiri.

Aku hanya ingin terbebaskan; terutama dari bayang dirimu yang terkunci dalam kotak Pandora di sudut kesadaranku.

Aku tidak mengingatmu karena ingatan hanya akan mengoyak topeng transparan yang melekat padaku, menarik keluar diriku yang seharusnya. Dan itu hanya akan menghancurkan dunia, karena aku hanya akan melihatmu, mengejarmu, menyentuhmu, menarikmu ke dalam pelukan meremukkan, dan ketika itu dunia akan luruh meleleh menuju kehampaan—menjadi kembali tiada; dunia yang kaucintai akan hilang. Maka aku hanya meleburkanmu ke dalam alam bawah sadarku, terkunci dalam kotak Pandora yang kuabaikan di sudut gelap agar suatu saat ketika kita diberikan secercah kesempatan untuk terlahir kembali, bukan ingatan yang menyesatkan namun kesadaranku sendiri yang akan menemukanmu dalam kerangka lain. Dan mungkin, mungkin saja pada saat itu, aku bukanlah diriku yang sekarang, aku tidak akan menjadi pendosa karena mengharapkan hal yang seharusnya kutinggalkan—

—dirimu.

(Seketika proyeksi senyuman manis yang pahit mendesak, memenuhi belakang kelopak mata, retina, syaraf-syaraf otak, kemudian kerangka diri. Syaoran tersentak ketika ia ditarik keluar dari kehampaan. Refleks, ia menjauhkan diri agar tidak hancur)

“…ada apa?”

Warna abstrak mulai menampilkan garis-garis tegas ketika kabut dalam pikiran tersingkirkan dunia nyata; dunia yang kukutuk selamanya. Aku hanya tersenyum, mencoba untuk memperlihatkan sekelumit penyesalan (yang hanya berupa kekosongan karena bahkan dalam diriku tidak tersisa apapun lagi karena dalam dunia ini aku hanya berupa kerangka kosong yang terlabeli oleh atribut-atribut hampa).

Jemariku menguraikan rambut yang menjerat, perlahan. Tubuhku condong sebentar agar bibirku bisa menyentuh bibirnya, untuk terakhir kali—memberi tanda bahwa kerangka itu sudah dipakai; cerminnya sudah rusak. Aku tahu ia mengetahuinya; hanya dijadikan cermin. Satu perca terjahit ke kain dosa yang sudah dapat dipakai untuk menutupi duniaku dari kebaikan pengampunan.

Biarkanlah demikian.  

Biarkan, karena dosa tampak sudah menjelmakan dirinya menjadi topeng transparan yang melekat kuat di wajah. Namun andai kata (karena andai hanyalah akan berupa kata yang tidak bermakna). Andai kata ada berkas pengampunan berhasil menyisipkan diri menembus topeng ini, aku hanya ingin terbebaskan. Aku hanya ingin terbebaskan dari dirimu—dari keinginan melihatmu, mengejarmu, menyentuhmu, menarikmu ke dalam pelukan meremukkan, dan meskipun ketika itu dunia akan luruh meleleh menuju kehampaan—menjadi kembali tiada. Walau dunia yang kaucintai akan hilang dan aku—kita akan tetap terampuni. Andai kata bisa seperti itu, kembali ke ketiadaan pun tidak lagi menjadi hal yang paling menyedihkan (karena saat itu kita akan melebur menjadi udara hampa, bersama selamanya; tanpa keraguan, ketakutan, penderitaan, hanya kedamaian yang menenangkan).

Tapi itu hanya andai kata.

Hanya ‘andai’.

Pikiran itu menguatkan cekikannya dalam diriku dan aku hanya bisa tergagu, menatap pijakan dan berharap bayangan akan merengkuhku, menyelimutiku, menjauhkanku dari dunia nyata yang tampak kosong karena aku hanya selalu meriuhkan tanpa suara kata ‘andai’ dalam udara.


…namun, aku lelah.

Sudah cukup.

(Bulir air mata jatuh dalam sunyi, perlahan meluruhkan topeng)


World’s End
Langkah demi langkah; ringan tanpa keraguan, hanya ketetapan hati yang menjerit bisu mengharapkan pengampunan mutlak. Jarak demi jarak terlampaui; semakin dekat. Semakin dekat; bulir-bulir pasir meluncur deras melalui celah bagai bom waktu yang tinggal menunggu untuk meluluhlantakkan semuanya.

Luapan emosi menghentak-hentakkan kerangka bersama dengan degup jantung yang seolah meremukkan ketika menemukan satu sosok; seorang gadis yang menjadi inti pusaran dunianya. Pemuda itu terdiam di sana, tepat beberapa meter di depan punggung kecil yang bergetar hebat karena tangis. Melihatnya, ia tahu ia tidak bisa kembali lagi, tidak ketika ia mengetahui bahwa apapun yang dilakukan tidak akan ada pengampunan yang menjulurkan lengan hangatnya merengkuh mereka.

Mulut memvokalkan sebuah nama.

Gadis itu terhenti, dengan ragu menoleh pada sumber suara. Mata basahnya terbelalak (dalam lensanya terpantul senyuman getir yang dicintainya, serta kebaikan terbiaskan). Uluran tangan padanya membuat gadis itu perlahan mengerti. Ia kembali menangis; tangisan yang lebih pekat oleh emosi karena akhirnya pemuda itu melihatnya. Pemuda itu melihatnya (bukan sebagai cermin, bukan: karena apa yang menguar dari keseluruhan eksistensi pemuda itu kini bukanlah kosong melainkan perasaan murni tanpa atribut-atribut hampa). Ia akhirnya mengerti, karena itu ia menangis.

Mereka tidak akan diampuni. Walau demikian, mereka tetap menyentuhkan jemari mereka; perlahan berubah menjadi genggaman erat. Mata saling memandang, berusaha menggantikan kata-kata yang hilang di pangkal tenggorokan yang tercekik emosi. Bibir membentuk kurva getir, namun kebahagiaan yang mereka rasakan jauh dari perih (hanya melebur dalam pahit).

Jarak makin dekat, bulir-bulir pasir makin meluncur deras. Dan ketika dua kerangka mencoba untuk melebur menjadi satu, bulir pasir terakhir jatuh dalam kesunyian yang bising; bom waktu meledak.

Dunia berakhir, luluh lantak, meleleh, melebur, menguap, berpusar membentuk badai debu hebat yang membutakan. Gaung ribuan tangis luruh di dalamnya; jeritan-jeritan ketakutan, kesedihan, penderitaan yang berharap akhir tidak datang, membuncah memenuhi udara yang mematikan (seolah udara itu sendiri telah berubah menjadi dewa-dewa kematian dengan sabit-sabit mereka, merenggut nyawa-nyawa dari kerangka). Di antara itu, sebuah gema asing yang familiar terdengar:

Kalian dua kutub berseberangan; positif dan negatif. Kalian akan tertarik satu sama lain, namun kalian tidak boleh bersatu. Kalian penyangga dunia. Jika kalian saling meniadakan akibat terkalahkan emosi; dunia akan hancur. Dunia akan hancur, kembali ke ketiadaan.

Sosok mereka perlahan lebur. Jiwa merangsek keluar dari kerangka; tangan mereka masih bertautan akan tetapi badai mengoyak, memaksa memisahkan.

—dan bahkan dalam ketiadaan pun—

Gema itu tertelan oleh bising badai debu yang sarat jerit tangis getir menyakitkan (dua suara tangis terdengar lebih jelas, seolah membelah pusaran udara yang makin hebat).

.owari.
By Natsu^^v on Satuday, July 13, 2013 at 6.18 a.m according to ChibiChan
AN: ahahahahaha lame ffic is lame, seperti biasa LOL orz
Wth with this really? Natz lagi mabok angst ß seperti biasa LOL #ngek
m(/////)m

Tidak ada komentar:

Posting Komentar