Title: Untitled –Kenangan Suatu Hari—
Fandom: Free!
Genre: family? semi-AU, I think LOL
AN: Matsuoka Family-centered. Rin
dan Gou di cerita ini usianya masih sekitar 5-6 tahun LOL and… natz sama sekali
nggak tahu menahu soal olahraga renang, jadi errr gomen m(////)m
Bunyi samar deru ombak diam-diam merayap melalui celah,
masuk ke dalam keremangan rumah yang senyap, sampai weker di sebuah kamar
mungil merobek ketenangan. Mata Gou kecil langsung terbuka begitu mendengarnya.
Ia segera bangun dengan wajah berseri-seri dan melihat kakak kesayangannya
sudah mematikan weker, tersenyum lebar mengacungkan jempol.
Hari itu, ayah mereka akan pulang setelah sekian lama
bekerja di lautan lepas. Pada hari seperti itu, diam-diam Rin dan Gou akan
keluar rumah, seperti sekarang, menunggu ayah mereka di tikungan tak jauh dari
rumah karena bagaimana pun, mereka ingin segera melihat ayah mereka—berjalan
mendekat dari kejauhan, tersenyum lebar melambaikan tangan dan kemudian melihat
itu, mereka akan berlari kecil ke dalam pelukan hangat yang sangat mereka
rindukan.
“Okaeri~” Dua suara nyaring bersatu membentuk harmoni.
“Tadaima” Senyum pria itu lembut. Ia merangkul kedua
anak kesayangannya dengan erat; dengan erat. “Ayah rindu kalian. Kalian sehat?
Kalian selalu jadi anak baik kan?” Menjauh sedikit untuk mengacak-acak rambut
keduanya yang mengangguk bersamaan (tawa lebar khas anak-anak lepas dari pita
suara). Kelegaan dan kebahagiaan terpancar dari binar mata pria itu. “Ibu
kalian pasti cemas. Ayo kita pulang” Tangan kanannya meraih tangan kiri Gou,
tangan kirinya meraih tangan kanan Rin. Mereka berjalan sementara berkas sinar
matahari perlahan mulai menghalau birunya fajar.
“Ayah, kali ini juga akan melatihku berenang kan? Aku
sudah lebih jago dibanding kemaren loh?”
“Onii-Chan curang! Ayah, Gou juga mau ikut! Gou juga sudah
lebih pandai!”
“Gou, kamu kan cewek, nggak perlu jadi pandai”
“Ah, Onii-Chan hanya cemas suatu saat nanti Gou jadi
lebih pandai daripada Onii-Chan”
“Nggak mungkin!”
Pria itu tertawa hangat.
“AYAH JANGAN CUMA KETAWA!”
Kekompakkan itu justru membuat sang Ayah tertawa makin
keras untuk beberapa saat, menyebabkan Rin dan Gou hanya mengernyit melihatnya.
Kemudian pria itu menguatkan kedua genggamannya, bergantian memandangi kedua
anaknya satu per satu dengan bias lembut. “Ayah sangat senang. Ayah sayang
kalian”—Rin dan Gou tersenyum lebar, semburat kemerahan jelas sekali di pipi
mereka—“Baiklah! Sebelum Ayah kembali bekerja lagi, Ayah akan kembali jadi
pelatih renang eksklusif untuk kalian!”
“YATTA!”
Kemudian tawa pun kembali terdengar.
~*+*~
Rin dan Gou melihat dengan kagum betapa cepatnya ayah
mereka di dalam air, seperti menyatu dalam aliran, bergerak ringan tanpa terlihat
mencoba melawan. Keduanya spontan bertepuk tangan dan bersorak berlari
menyambut ayah mereka yang baru saja keluar dari kolam. Pria itu tersenyum
lebar, mengacungkan jempol.
“Ayah KEREN!”
Senyum pria itu makin lebar; dipuji oleh kedua anak
kesayangannya adalah hal yang paling membanggakan baginya sebagai seorang ayah
dibanding apapun. Kemudian, setengah bercanda, ia mulai memamerkan otot-ototnya
ala binaragawan dan kedua bocah mungil itu pun makin berisik teriak kagum.
“Hahaha, sudah, sudah” Pria itu menggaruk kepalanya,
agak malu juga dengan perbuatannya tadi. “Ayo, Rin, Gou, kalian nggak mau
terus-terusan nonton dari pinggir kan? Ayah sudah meluangkan waktu untuk
kembali jadi pelatih eksklusif loh?”
Kedua bocah itu langsung mengangguk dan segera bersiap
di daerah yang tidak terlalu dalam untuk tubuh mungil mereka. Mereka berjajar kemudian
melompat ke dalam air, berenang dengan gaya sederhana yang pertama kali
diajarkan oleh sang Ayah.
Gou meluncur dengan santai sementara Rin tampak lebih
bersemangat. Pria itu menatap anak laki-lakinya dengan pandangan agak serius,
menyadari ada yang berubah dari gaya berenang bocah laki-laki itu. Dulu, Rin
akan berenang seperti Gou, tapi sekarang ia seperti diburu sesuatu.
Kepala Rin menyembul pertama kali dari air, tersenyum
lebar dengan napasnya yang terengah-engah. Sang Ayah kemudian masuk lagi ke
dalam kolam dan menepuk kepala Rin, tersenyum lembut, lalu ganti menepuk kepala
Gou yang baru saja selesai berenang.
“Baiklah, kita mulai dengan latihan dasar dulu”
Mengangguk sambil tersenyum, Gou langsung memposisikan
dirinya di pinggir dinding kolam, berpegangan sementara membiarkan tubuhnya
mengapung kemudian menggerakkan kedua kakinya santai. Rin masih diam di tempat
dan sang Ayah menelengkan kepalanya dengan ekspresi bertanya walau senyum tidak
beranjak dari wajah.
“Ayah, aku ingin latihan yang lebih dari sekedar dasar!”
Pria itu tampak terkejut. Gou menoleh, tapi tidak
berhenti.
“Rin—“
“Aku ingin latihan yang lebih lagi... seperti misalnya
teknik atau bagaimana caranya supaya aku lebih cepat ketika di dalam air. Aku
ingin cepat seperti Ayah!”
Pria itu menghela napas. Dengan gerakan tangan, ia
menyuruh Gou berhenti. “Rin, bisa ceritakan pada Ayah, ada kejadian apa selama
Ayah pergi? Tampaknya cara berenangmu lain sekali dengan yang terakhir kali Ayah
lihat”
Rin membuang muka. “Aku... dikalahkan”
“…?”
“Ah, yang waktu itu! Sousuke-Kun!”
“Gou, diam!” hardik Rin, mukanya memerah.
Gou hanya mengerucutkan bibir.
Ayahnya tersenyum, “Kau dikalahkan?”
Diam.
“Kau kesal?”
Diam.
“Kau ingin menang?”
“…tentu saja kan?”
Sekali lagi, pria itu menghela napas, menepuk kepala
Rin. “Ayah tidak tahu kau bersikap bergitu kompetitif dalam berenang. Ayah pikir,
kau hanya suka berenang—“
“Aku ingin jadi atlit renang”
Terkejut, mata pria itu melebar.
“Nii-Chan cerita kalo ia suatu saat ingin mengikuti
Olimpiade!” Gou menambahkan dengan kekehan geli, dan Rin tidak menanggapi
seperti biasanya, hanya diam tapi menatap ayahnya dengan kesungguhan.
Pria itu perlahan membuka mulut kemudian mengurungkan
niatnya untuk menanggapi. Ia menatap Rin yang masih memandanginya serius, jelas
menunggu. Tangan besar pria itu menepuk kepala anak laki-lakinya sementara ia
tersenyum. “Tapi tetap, dasar itu suatu hal yang sangat penting, Rin. Seorang atlit renang yang hebat sekali pun,
kalau bukan karena belajar benar-benar dari dasar, dia tidak akan jadi atlit
renang yang hebat”
Rin mengerjap. “Benarkah?”
Pria itu mengangguk. Perlahan, Rin pun tersenyum lebar
sembari mengangguk.
“Gou juga mau jadi atlit renang!”
“Gou, kamu jangan ikut-ikutan!”
“Onii-Chan pelit!”
Dan pria itu hanya tertawa keras.
“AYAH JANGAN KETAWA!”
~*+*~
“Gou, hati-hati ya!”
“Iya, Ayah!”
“Awas jangan kepeleset. Jangan nangis juga. Hati-hati
jangan sampai baju renangmu ketinggalan”
“Onii-Chan cerewet!” Gou menjulurkan lidah, memutar
tubuhnya dengan cepat dan menjauh.
Rin tertawa, kemudian berbalik mengikuti ayahnya yang
tertawa bersamanya.
“Rin itu imouto-omoi
ya. Ayah bangga”
Berhenti tertawa, muka Rin serta merta memerah. “…nggak
juga, kok”
“Ayah lega, kalian sangat rukun”
“Nggak”
Pria itu tertawa. “Ayah tahu kau sayang sekali pada Gou”
“…” Rin menunduk dalam. “…jangan bilang-bilang”
Terdiam sebentar, pria itu kembali tertawa (kali ini
lebih keras), menepuk-tepuk kepala Rin dengan lembut.
~*+*~
Makan malam keluarga Matsuoka selalu ditemani suara
bising televisi yang berlomba dengan kicauan nyaring Rin dan Gou yang tampak
tidak ada lelahnya, apalagi jika Ayah mereka ada di rumah, suasana makin ramai.
Tapi, tidak seperti biasanya, malam itu Rin tampak tidak terlalu berisik, hanya
sesekali menanggapi ocehan Gou sembari kerap mencuri lihat ke arah ayahnya yang
masih mendengarkan Gou dengan seksama, tersenyum lalu tertawa atau
mengangguk-angguk mengikuti alur cerita abstrak anak perempuannya itu.
“Gou, makan yang benar” Sang Ibu menegur dengan kekehan
geli. “Nanti tersedak”
“Iya~”
Pria itu menatap istrinya dan mereka berbagi senyum
lembut; saat-saat seperti inilah yang membuatnya tidak menyesal melepas mimpi
menjadi atlit renang olimpiade untuk menikah dan membangun keluarga kecil
sederhana. Ia pikir, ia sudah tidak
membutuhkan apapun lagi, ditambah, sekarang anak laki-lakinya mendeklarasikan
kalau ia ingin jadi atlit renang. Pria itu menanggap dirinya mungkin terlalu berlebihan,
tapi ia sangat bangga karena anaknya akan meneruskan mimpinya dan yakin Rin
bisa melangkah lebih jauh dibanding dirinya dulu.
Menggulirkan pandangan ke bocah laki-lakinya, pria itu
tesenyum ketika mendapati mata Rin masih lurus ke arahnya (sambil makan). “Rin,
habiskan makananmu dulu. Nanti, Ayah mau bicara”
Bibir Rin membentuk senyuman lebar, memperlihatkan
gigi-gigi mungilnya. “Un”
“Curang, Gou juga! Gou juga mau ikut!”
“Iya, iya, Gou juga habiskan makanannya ya”
Dan makan malam pun berlanjut dengan lebih tenang.
Setelah itu, sang Ayah mengajak kedua anaknya duduk di
teras. Langit malam hari itu tampak sangat indah. Walau agak sedikit berkabut,
tapi bintang-bintang tampak terang bersinar.
Rin mulai membobardir ayahnya dengan
pertanyaan-pertanyaan tapi pria itu menghentikannya dengan senyuman dan berkata
bahwa ia akan terlebih dahulu bercerita mengenai dirinya dulu ketika masih ikut
klub renang di Iwatobi. Rin dan Gou mendengarkan dengan senyum dan pandangan
kagum, apalagi ketika ayahnya dengan semangat menceritakan tentang kompetisi-kompetisi
yang ia ikuti serta teman-temannya dulu yang sama-sama berjuang, juga
rival-rivalnya yang hebat. Pria itu terutama terlihat tampak bahagia ketika
menceritakan kompetisi relay yang pernah dilakukannya waktu ia masih di klub
renang Iwatobi. Dulu, pria itu sempat bercerita sekilas mengenai masa lalunya,
tapi kali ini ia menceritakannya sedikit lebih rinci.
Malam pun semakin larut. Gou menguap lalu menjatuhkan
tubuh mungilnya di pangkuan sang Ayah, membuat pria itu berhenti sebentar.
“Lalu? Lalu?” Rin masih bersemangat. “Akhirnya Ayah
menang dari dia kan?”
Mengangguk, pria itu menambahkan sambil membelai Gou. “Iya,
walau dengan susah payah. Perbedaan waktu Ayah dengannya hanya berkisar sepersekian
detik. Dia rival ayah nomor satu dan ayah senang sekali mempunyai rival seperti
dia”
“Tapi Ayah tetap HEBAT!”
“Hahaha, ureshii
na” Ia beranjak, menggendong Gou yang tampaknya sudah tertidur pulas. “Rin,
ayo masuk ke dalam. Ini sudah masuk jam tidur, kan? Anak-anak seperti kalian
harus tidur cepat”
“Eeeh, tapi aku masih ingin mendengar cerita Ayah.
Lagipula, Ayah belum sempat menjelaskan bagaimana caranya supaya jadi lebih
cepat kan?”
Pria itu menghela napas, tersenyum. “Bantu Ayah
menidurkan adikmu dulu, Rin, nanti kita lanjutkan di dalam”
“Iya~”
Rin mengeluarkan dua futon lalu menggelarnya sejajar,
lalu sang Ayah meletakkan Gou dengan hati-hati di satu futon sementara Rin
membantu menyelimutinya. Sang Ayah kemudian memberi kecupan ringan di kening
Gou (wajah bocah perempuan itu langsung berseri, kembali melanjutkan tidurnya).
“Lalu? Lalu?” bisik Rin, kembali bersemangat di atas
futonnya sendiri.
Sang Ayah menepuk kepala anak laki-lakinya. “Kau ingin
jadi lebih cepat? Kau ingin jadi atlit renang?”
Rin mengangguk semangat. Matanya berbinar-binar. “Un!”
“Hmm” Ia meraih tangan mungil Rin, menyentuhnya ,
kemudian beralih ke pundak, punggung, sampai kaki.
“A-ayah! Apa-apaan!” Rin spontan menjauh, menunjukkan
kengerian di wajahnya.
Pria itu berhenti, tertawa. “Ah, maaf,” kemudian
melanjutkan dengan nada sedikit serius, “Mulai sekarang, setiap hari, secara
teratur, latihlah badanmu dan bangun staminamu dengan berlari dan melakukan sit-up atau push-up—kau sudah tahu ini kan?”
“Eeeh, apa itu ada hubungannya?”
“Tentu saja. Kau akan tahu bagaimana terasa ringannya di
dalam air ketika badanmu sudah terlatih dan staminamu sudah lebih baik. Dengan
demikian, kau pasti bisa jadi lebih cepat”
“Benarkah?”
Pria itu mengangguk. “Kemudian... masuklah ke klub
renang dan belajarlah dari banyak orang. Para coach yang ada di klub renang akan membantu meningkatkan teknikmu.
Anak yang bernama Sousuke itu dari klub renang kan?”
“Iya. Tapi…”
“Tapi?”
Rin menunduk. “…aku tidak ingin pelatih selain Ayah…”
Pria itu terdiam sebentar. Hatinya menghangat mendengar
anaknya berbicara seperti itu. Ia terharu, rasanya ingin menangis bahagia tapi segera
diurungkannya karena merasa akan sangat tidak keren menangis di depan anaknya
sendiri.
“Ayah senang kau berpikir seperti itu, Rin. Tapi, Ayah
jarang pulang ke rumah karena harus bekerja, sementara untuk mewujudkan
impianmu, kau harus berlatih setiap hari. Rin, impianmu itu tidak bisa
didapatkan hanya dengan sesekali berlatih bersama pelatih” Berhenti sebentar.
“Hm, begini, bagaimana kalau Ayah buatkan menu latihan? Nanti kau bisa bekerja
sama dengan pelatihmu nanti untuk melaksanakannya”
Mata Rin langsung berbinar (lagi). “Benar? Janji, ya!”
Pria itu mengangguk.
“Lalu? Hanya itu saja?” Rin mengernyit, bingung. “Ayah
tidak punya semacam teknik rahasia? Ayah, jangan pelit, bagi Rin juga teknik
rahasianya”
Sang Ayah tertawa. “Tidak, tidak, hanya itu saja. Kau
masih harus banyak belajar; kuasai dasar dengan benar dulu. Soal teknik, itu
bisa dipelajari sedikit demi sedikit. Lalu, sebenarnya, tidak pernah ada yang
namanya teknik rahasia, hanya buatlah tubuhmu makin terbiasa dengan air”
“Benarkah? Sama sekali tidak ada?”
“Iya” Pria itu menarik selimut Rin—yang segera berbaring
di futonnya. “Kemudian… yah, ini bukan tentang teknik, tapi Ayah punya beberapa
hal yang ingin kamu ingat, pahami, dan laksanakan”
.Rin mengangguk
“Pertama, menang atau kalah memang sesuatu yang penting
dalam kompetisi, tapi itu bukan segalanya, Rin. Mungkin saat ini, kau tidak
mengerti tapi suatu saat kau akan memahami apa yang dimaksud dengan pernyataan
itu. Kedua, jangan terlalu cepat puas, tetap berlatih dan berusaha lebih keras
dibanding orang lain. Ketiga, kalau kalah, jangan kecewa dan jadikan itu
sebagai motivasi untuk menjadi lebih baik. Keempat, belajarlah yang
banyak”—Pria itu berbaring miring, membelai rambut Rin, menatap dengan lembut.
“Kelima, lihat sekelilingmu, hargailah teman-temanmu
juga rival-rivalmu karena mereka keberadaan yang penting. Mereka akan membantu
kemajuanmu, karena itu dalam kompetisi sekecil apapun, jangan pernah meremehkan
siapapun dan selalu berikan yang terbaik karena mereka juga pasti memberikan
yang terbaik: itu kewajiban kita sebagai lawan. Keenam, percayalah pada dirimu
sendiri. Kemudian…”
Rin berusaha keras menahan kantuk. “Kemudian?”
Pria itu tersenyum, mendekat lalu mengecup kening anak
laki-lakinya. “Kemudian, setelah yakin akan impianmu, kau pasti akan dipenuhi
oleh itu dan akan terus maju tanpa ragu, tapi Ayah ingin kau berjanji. Walau
demikian, jangan lupakan keluargamu: Ayah, Ibu, dan Gou. Karena, mungkin kelak
kau akan merasa lelah berlari mengejar mimpimu tapi kami akan selalu ada di
sini”
Rin tersenyum, mengangguk pelan. “Iya… aku janji…” Matanya
mulai menutup.
Pria itu terdiam, melanjutkan, “…dan Rin, ini yang
terakhir. Kau anak sulung; anak laki-laki. Kau harus menjaga ibumu dan Gou
baik-baik. Saat Ayah tidak ada, kau adalah kepala keluarga Matsuoka. Kalau ada
apa-apa, kau yang harus tegar untuk ibumu dan Gou, terutama adikmu kau harus
rukun dan melindunginya. Shikkari suru nda
zo?”
“…” Rin menatap ayahnya nanar, kantuk yang dirasakannya
tadi perlahan pergi digantikan oleh perasaan sesak yang tidak dimengertinya.
Matanya panas dan air mata meluncur begitu saja.
Pria itu kaget. “Rin? Kenapa? Jangan menangis” Panik, ia
menyeka air mata anaknya sementara Rin mulai tersedu-sedu. “Maaf, Ayah
membuatmu kaget ya?” Pria itu membelai kepala Rin sampai anaknya tenang sambl
tersenyum. “Ah, padahal baru dibilang barusan…”
“Habis… Ayah bilangnya ‘yang terakhir’”
“Warui. Tapi
jadi cowok, nggak boleh sering menangis loh?”
“Nggak boleh sering… Berarti sesekali nangis boleh?”
“Tentu saja, terutama di saat kau ingin sekali menangis.
Itu hal yang wajar, Rin”
Rin mengangguk.
“Sekarang, tidurlah”
Sekali lagi, Rin mengangguk pelan, menutup matanya yang
sedikit sembab.
~*+*~
Dua malaikat keluarga Matsuoka sudah tertidur pulas.
Sang Ayah beranjak setelah menciumi kening mereka, melangkah menuju ruang makan
di mana istrinya sudah menyiapkan segelas bir. Wanita itu duduk, menunggu
suaminya menegak habis isi gelas lalu mengisinya lagi.
“Kau bercerita banyak tentang masa lalumu hari ini”
Pria itu tersenyum.
“Kupikir... kau tidak akan menanggapi serius perkataan
Rin-Chan. Bisa saja ini hanya keinginan sesaat kan? Perjalanan anak itu masih
panjang. Masa kanak-kanak seharusnya menjadi masa di mana kita diperbolehkan
bermimpi sebanyak-banyaknya. Nanka,
kalau sudah difokuskan terhadap satu impian, apakah anak itu tidak akan kehilangan
masa kanak-kanaknya yang berharga?”
Tertawa, pria itu menyesap sedikit birnya. “Kau terlalu
cemas. Selama ini, aku tidak pernah memaksanya untuk menyukai sesuatu atau
meneruskan impianku. Aku membiarkannya bebas. Sekarang, ia berkata bahwa ia ingin
menjadi atlit renang. Kesungguhan di matanya… aku jadi ingat diriku yang dulu,
lalu tanpa sadar aku ingin mendukungnya juga” Ia tersenyum. “Waktu anak-anak,
aku tidak pernah menyesali fokus terhadap satu hal yang kusukai yang juga
merupakan impianku. Aku yakin, Rin juga akan begitu”
Wanita itu tersenyum, agak pahit. “Kalau kau bilang
seperti itu, aku jadi merasa bersalah—“
“Bodoh. Menikah denganmu adalah kebahagiaan terbesarku.
Aku tidak menyesal” Ia meraih dan menggenggam tangan istrinya dengan erat. “Kuharap,
kau juga akan mendukung Rin. Mungkin kau akan tertawa dan menyebut ini hanya
sebatas kebanggaan orang tua tapi... anak itu memiliki bakat, mungkin melebihi
diriku” Ia terkekeh. “Tapi jangan pernah cerita padanya kalau aku bilang
seperti itu. Aku tidak ingin dia jadi besar kepala”
Wanita itu ikut terkekeh. “Kau benar-benar sudah jadi seorang
Ayah”
“Terima kasih sudah bersamaku dan memberiku dua malaikat
yang sangat berharga” Ia mencondongkan tubuhnya, memberikan ciuman ringan di
bibir pada sang Istri.
~*+*~
Bunyi samar deru ombak diam-diam merayap melalui celah,
masuk ke dalam keremangan rumah yang senyap, sampai suara sopran pada sebuah
kamar mungil merobek ketenangan. “Kalian, ayo bangun”
Gou hanya menggeram. Rin yang pertama kali terbangun, walau
masih dengan mata masih setengah tertutup. Sang Ibu berdiri, kemudian bergegas
ke ruang makan.
“Rin-Chan, tolong segera bangunkan Gou-Chan. Ayah mau
berangkat kerja”
Bergumam, Rin mengangguk pelan.
“Tidak usah, biarkan dia tidur. Kasihan”
“Nggak, kami harus mengantarmu—Rin-Chan? Gou-Chan?”
Rin menoleh ke sebelah, mengguncang Gou dengan pelan.
“Gou…”
“Hmm…”
Rin menggosok matanya sambil terus mengguncang adiknya.
“Bangun, Gou… Ayah mau berangkat”
“Hmm…”
Rin terdiam, menyelipkan tangan ke dalam selimut Gou
lalu menggenggam tangan adiknya dengan erat. Sebenarnya, Gou sedari tadi sudah
bangun dan Rin tahu itu. Ia juga tahu kenapa adiknya malas untuk bangun dan
mengantar sang Ayah karena ia sendiri juga berpikir seperti itu. Tapi kata
ayahnya, ia harus shikkari.
“Gou, Onii-Chan tahu kau nggak mau Ayah pergi. Tapi
kalau Ayah nggak kerja…” Rin terdiam, menggaruk kepalanya. “Yah, Onii-Chan
nggak tahu persis, tapi kayaknya kita nggak akan bisa makan atau bagaimana. Jadi,
kau harus merelakan Ayah pergi kerja. Ne? Waktu Ayah nggak ada, Onii-Chan yang
akan menjaga Gou. Ayah juga pasti akan sangat kesepian di kapal, makanya kita
harus mengantar Ayah dengan senyum supaya kalo Ayah kesepian, Ayah bisa
mengingat kita lalu bisa semangat lagi”
Menyeka air matanya, Gou mengangguk lalu bangun. Rin,
masih menggenggam tangan adiknya, melangkah ke pintu depan, tersenyum pada sang
Ayah yang balas tersenyum lebar. Pada awalnya, Gou ragu untuk ikut tersenyum,
tapi melihat Ayahnya dan mengingat kata-kata Rin, akhirnya ia tersenyum (paling
lebar).
“Itterasshai!!”
“Ittekimasu”
~*+*~
Rin memakai pelindung kepala dan google-nya, menarik
karet belakang kemudian melepaskannya; menimbulkan bunyi hentakan yang cukup
kuat (sama seperti yang sering dilakukan ayahnya).
“Onii-Chan, ganbatte!”
Rin mengacungkan jempol, tersenyum lebar.
“Siap dikalahkan lagi olehku, Rin-Chan?”
“Nggak kali ini, Sou-Chan!” Rin mendengus, terdengar
percaya diri. Ia sudah berlatih keras selama seminggu ini, mengikuti semua
nasihat ayahnya dan ia kaget betapa semua perkataan ayahnya benar. Kini, ia
pikir ia sudah jauh lebih baik dibanding kemarin. Ia merasa ia bisa mengalahkan
Sousuke—Rin menggeleng, ia tidak boleh terlalu cepat berpikir begitu.
Rin menggumam, “Berikan yang terbaik, percayalah pada
diri sendiri”
“Set! Go!”
Keduanya melompat, meluncur dengan cepat, saling
berlomba membelah air, susul-menyusul dengan jarak hampir tidak ada. Rin
melirik ke arah Sousuke dan melihat bahwa lawannya berusaha keras. Rin ingat
perkataan ayahnya lalu memperkuat gerakan tangannya berusaha menyatu dengan
aliran air (membayangkan ayahnya berenang seperti waktu itu). Ia ingin
memberikan yang terbaik—untuk dirinya, untuk Sousuke.
Saat dinding sudah di depan mata, Rin merentangkan
tangan dan tepat setelah menyentuhnya, ia berhenti. Napasnya terengah-engah,
berdesakan keluar masuk paru-parunya. Rasa kaporit memenuhi rongga mulut dan
hidung. Ia tidak tahu. Ia kalah? Ia menang?
Rin menoleh ke arah Sousuke yang ternyata sedang melihat
ke arahnya. Sousuke juga terengah-engah, matanya agak sedikit terbelalak.
“Pemenangnya… Matsuoka Rin!”
“YATTA!!
Onii-Chan menang!!”
Rin tidak terlalu bisa mencernanya, ia masih memandangi
Sousuke, bahkan suara teriakan Gou hanya samar di telinganya. Ia menang;
akhirnya ia menang dari Sousuke. Ia senang, tapi entah kenapa pikirannya hampir
kosong. Sousuke menghela napas, mendekati Rin dengan wajah serius. Rin agak
mundur sedikit, mengantisipasi ledakan dari bocah di depannya. Tapi—
“Ii shoubu da zo,
Rin!” Sousuke menyorongkan tinjunya ke pundak Rin, tersenyumlebar. “Ashita mo shoubu shiyou ze?”
Rin tercengang. Senyuman Sousuke seolah bertumpuk dengan
senyum ayahnya. Matanya menghangat sementara perkataan ayahnya soal
kalah-menang kembali terngiang. Ia merasa ia sedikit mengerti perkataannya itu.
Ia sedikit mengerti.
“Un!”
“Uwaa, Sousuke ijiwaru!
Kau membuat Rin-Chan nangis!”
“A-aku nggak—“
“Aku nggak nangis!”
“Siapa yang bikin Onii-Chan nangis? Sini Gou HAJAR!”
“AKU NGGAK NANGIS!”
~*+*~
“Ayahmu keren ya. Kudengar dulu dia memang yang paling
hebat di kota sebelah, bahkan Ayahku pun tahu kalau dia benar-benar hebat”
Rin tersenyum bangga. “Iya, dan aku akan mengikuti
jejaknya menjadi atlit renang, aku ingin mewujudkan mimpinya dengan mengikuti
olimpiade dan menjadi perenang yang terbaik sedunia, itulah impianku. Dou da? Kakkoii deshou?”
Sousuke tertawa. “Kakkoii
zo, Rin-Chan”
“Teme! Kau
panggil aku Rin-Chan lagi! Nggak akan kumaafkan, Sou-Chan!”
Sousuke tertawa makin keras.
Gou berhenti. “A!”
Ikut terhenti, Rin menoleh. “Gou, kenapa?”
Bocah perempuan itu mengambil ikat rambutnya yang putus.”Onii-Chan…”
Matanya berkaca-kaca.
Rin menatap ikat rambut di tangan Gou dan tiba-tiba
merasakan dingin menyelimuti dirinya. Ia jadi takut, tanpa sebab, tapi
melihat Gou sudah mulai menangis, Rin mengenyahkan rasa takut itu lalu meraih
tangan adiknya, menggenggamnya. “Iku zo?”—tersenyum.
Gou mengangguk, menyeka air matanya walau tangisnya
tidak berhenti.
Mereka bertiga berjalan dalam diam sementara matahari
senja mulai tergantikan malam.
-FIN-
27 Agustus 2013 at 8.11 AM
By Natsu^^v
AN:
iya, ini terlalu supokon LOL LAME SUPOKON LOL and natz juga nggak ngerti sama
sekali soal renang-renangan, terus semua tentang masa lalu Rin dan Gou serta
Ayahnya serta Ibunya cuma headcannon
natz ya, jadi boleh nggak usah diperdulikan kalau emang nggak cocok dengan
preference reader-Chan
>////<;)~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar