Title: Home
Fandom: Free!
Disclaimer: belong to the owner
;;w;;
Pairing: hints, I think? SouRin
(Sousuke x Rin)
Genre: whut? Errr…..
bittersweet? Hahah //whacked
AN: Semi-AU, timeline-nya
ketika Rin sedang berada di kota tempat turnamen renang provinsi diadakan.
Ia lelah. Napas serasa enggan keluar dari paru-paru. Ia
berhenti berjalan ketika pikirannya makin berkabut. Tidak bisa; satu pun tidak
bisa ia cerna lagi. Ia hanya ingin pulang. Pulang dan membungkus diri dengan
selimut; tidur. Tidur panjang tanpa harus khawatir akan waktu yang berlalu.
Tanpa harus khawatir akan onggokan emosi yang semakin detik semakin tidak bisa
tidak diperdulikan lagi.
Ia lelah.
Punggung perlahan disandarkan ke tembok (yang bahkan
tidak ia indahkan bangunan apa). Topi ditarik turun, makin menutupi pandangan.
Telinga disumpal earphones, gelombang suara mengirimkan dentuman menulikan dari
segala suara samar (karena dunia baginya masih seperti berada dalam air). Rin
menutup matanya. Ia hanya ingin tidur panjang.
‘Oyaji, chotto
dake ii deshou? Chotto…dake…’
Hitam berubah menjadi labirin berwarna abstrak.
Kesadaran melayang tenggelam jauh lebih dalam, masih seperti berada dalam air
namun kali ini tidak menyesakkan karena segala sesuatu ikut makin membias,
menjauh. Segala sesuatu mengabur, menghilang—
!
Mata terbuka lebar dalam kekagetan. Kedua lengannya
hampir kebas, earphones sudah tidak menyumpal telinganya, tapi Rin saat itu hanya
perduli pada wajah cemas di hadapannya. Garis wajah yang familiar tapi otak Rin
tidak menemukan nama. Rambut hitam, mata hitam, tubuh tinggi tegap dan sentuhan
yang sama familiarnya.
“Rin? Rin kan?”
Suara bass yang keluar dari mulut itu terdengar asing
namun caranya melafalkan nama Rin terlalu familiar untuk tidak diacuhkan. Rin
masih berusaha keras untuk menemukan satu nama. Satu nama.
“Kamu ngapain bengong? Ini jalanan umum tahu!”
Masih berkabut, masih belum terpikirkan satu nama, Rin
hanya bisa melakukan apapun untuk membela diri dan tidak membiarkan eksistensi
asing itu bersikap seenaknya. Cowok berambut merah itu mendorong tubuh tegap
menjauh. “Bukan urusanmu! Lagipula, ini kan di—“ Australia, hampir ia menyelesaikan kalimatnya sebelum sadar akan
sesuatu. Ini di Jepang. Mereka berbicara bahasa Jepang. Ia sudah pulang
beberapa bulan yang lalu, bukan?
Rin mengurut kening, frustasi akan dirinya sendiri.
“Yang pasti, ini bukan di Iwatobi, ataupun di Sano” Kekehan
terselip lepas dari mulut. Cara tertawa itu mengundang nostalgi; sangat
familiar—
Rin terbelalak, memandangi eksistensi familiar itu. Satu
nama sudah jelas terproyeksikan di belakang retinanya. Ia membuka mulut.
Suaranya sedikit bergetar, “Sou—suke?”
Eksistensi itu mengangguk, tersenyum lebar. “YAP!
Beraninya kau lupa, Rin-Chan” Sedikit menggoda, ia menyodokkan lengan ke tubuh
teman lamanya; gestur yang sangat bersahabat. Sousuke tidak berubah. Semua
tidak berubah (Rin merasa ia semakin tertinggal bersama onggokan emosi di sudut
gelap).
“Hisashiburi da ze”
Sousuke langsung menambahkan ketika Rin tidak terlalu memberikan reaksi yang
berarti selain mengangguk kecil. Ia menghela napas. Mata hitamnya melembut. “Sebenarnya
sekarang aku tidak tahu harus senang atau kecewa. Senang karena tentu saja
melihatmu lagi setelah bertahun-tahun. Kecewa karena… kau bahkan tidak pernah
menghubungiku lagi sejak saat itu” Tentu saja yang dimaksud Sousuke adalah
waktu turnamen relay SD; turnamen terakhir Rin sebelum berangkat ke Australia.
“Aku tidak pernah keberatan, tapi aku tetap kecewa—ah, tapi rasa senang karena
melihatmu lagi lebih besar dari rasa kecewa, jadi tidak usah khawatir”
Rin terdiam mendengarkan perkataan teman lamanya,
menggulirkan pandangan ke bawah.
“Warui,
ada…banyak hal…”
Cowok berambut merah itu mengepalkan tangan kuat-kuat
ketika kenyataan bahwa kini ia sedang bersama Sousuke terlalu nyata seakan
menghampas keras pada kesadarannya. Dia…Sousuke. Sousuke yang masih seperti
dulu. Mendengar suaranya, melihat senyuman lebarnya, melihat dan dipandangi
oleh mata hitam bening yang bersinar bagai matahari pagi, berada di dekat
Sousuke membuat ingatan-ingatan menyenangkan akan kebersamaan mereka memenuhi
diri Rin. Dia Sousuke. Sousuke yang dulu selalu Rin anggap seperti saudara
(seperti ‘kakak’). Dulu, hanya pada Sousuke, Rin bisa dimengerti tanpa harus
melontarkan apapun, ia bisa dimaklumi tanpa harus merasa terkekang, ia bisa
selalu dimaafkan. Ia sendiri, dulu, juga begitu padanya. Mereka lebih dari
teman, sudah seperti saudara walau kedekatan mereka dulu bisa dibilang bahkan
lebih dari itu. Dia Sousuke yang seperti itu; salah satu ‘rumah’ yang sudah
sangat lama ditinggalkannya. Ia ingin pulang.
“…” Rin mengangkat tangan, berusaha meraih sosok di
depannya, menarik bajunya, mengisyaratkan ketidakberdayaan yang dulu akan
disambut dengan keterbukaan tanpa harus Rin takut kehilangan harga dirinya. Dia
Sousuke—
Terhenti. Rin menjatuhkan tangannya. “Warui, Sousuke, aku harus pergi—“
“Tunggu!” Sousuke dengan cepat menggenggam pergelangan
tangan Rin sebelum cowok berambut merah itu pergi. “Jangan pernah lagi
tiba-tiba pergi, Rin—“
Kaki Rin otomatis terhenti—bukan karena ditahan oleh
genggaman yang kuat, tapi Rin lebih kaget terhadap nada hampir putus asa serta
kata-kata yang tidak bisa ia bayangkan akan meluncur dari mulut Sousuke. Apakah
Rin salah? Apakah Sousuke sedikit berubah?—ketika memikirkan
kemungkinan-kemungkinan seperti itu, Rin malah merasa tidak nyaman. Ia memang
merasa tertinggal, tapi membayangkan Sousuke berubah tiba-tiba itu agak
menakutkan.
Genggaman tangan terlepas. “Ah, rumahku dekat sini,
kalau kau tidak keberatan mampir. Yah, meski kusebut rumah, itu hanya apartemen
kecil sih” Sousuke tertawa kecil.
Melihatnya, tanpa sadar Rin menghela napas lega. Sousuke
masih sama. Ia masih sama.
“Tidak usah—“
“Ayolah”
“Aku buru-buru”
Sousuke menghembuskan napas agak keras lalu merangkul
pundak Rin dan menariknya paksa. Rin sedikit meronta tapi Sousuke hanya bilang
sambil masih tersenyum lebar, “Sebentar saja, sebentar saja kok. Panas kan? Aku
punya kipas angin loh!”
Dan Rin, akhirnya, hanya bisa pasrah.
Seperti yang dibilang Sousuke, tidak sampai sepuluh
menit berjalan mereka sampai di sebuah gedung apartemen kecil yang agak kumuh.
Sousuke menaiki tangga terlebih dahulu, sudah sangat yakin Rin akan
mengikutinya. Ia mengeluarkan kunci dan membuka salah satu pintu di antara jejeran
pintu-pintu tertutup lainnya.
“Masuklah”
Rin bergumam, “Ojamasurussu”
Tapi gumaman itu hanya disambut dengus geli Sousuke dan
sodokan sikunya. “Kenapa sih? Formal amat. Di sini cuma aku yang tinggal kok”
Rin terpaku, melihat ke sekeliling. Memang, seperti yang
dibilang Sousuke, apartemen itu bukan tempat yang bisa ditinggali lebih dari
dua orang; hanya ada satu ruangan multifungsi (dengan sisa-sisa snacks juga bungkus bento berserakan di
mana-mana, perabotan minimalis, dan pakaian-pakaian menggantung di
langit-langit).
Sousuke memungut beberapa sampah di atas meja dan di lantai, menjejalkannya ke
kantong plastik besar. “Duduklah di mana saja,” katanya sementara ia sendiri
sibuk membereskan seadanya ruangan itu, menyalakan kipas angin dan membuka
jendela membiarkan udara masuk. Pakaian-pakaian yang digantung segera
dikeluarkannya untuk dijemur. Ia berbalik dan menemukan Rin hanya berdiri
terdiam di ambang pintu. Sousuke mengernyit, berkacak pinggang. “…hei, kau Rin
bukan sih?”
“Ha?”
“Matsuoka Rin, kan?”
“Matsuoka Rin, kan?”
Rin makin tidak mengerti. Ia menelengkan kepala,
menunjukkan ekspresi bingung dan kesal karena Sousuke seperti mempermainkan
dirinya. Setelah seenaknya mengajak Rin untuk ikut ke suatu tempat yang disebut
rumah milik eksistensi di depannya ini, sekarang ia malah ditanyai identitas?
Rin tidak bisa menebak jalan pikiran Sousuke—jangan-jangan ia memang sedang
dipermainkan. Apa Sousuke ingin membalas dendam karena Rin sama sekali tidak
pernah menghubunginya lagi setelah itu? Kh!
“Ka—“
“Seingatku, Rin tidak akan pernah canggung bersamaku”
Sousuke mengangkat bahu. Matanya menyiratkan kekecewaan.
“…” Tersadar akan maksud teman lamanya, Rin serasa ingin
membenturkan kepala ke tembok. Sebagian karena frustasi akan dirinya sendiri,
sebagian yang lain karena omongan Sousuke yang blak-blakan—yang sama sekali
tidak berubah dari dulu. Yah, itu melegakan. Perasaan lega yang membuncah
tiba-tiba hampir membuat matanya panas tapi sensasi geli di kepalanya lebih
besar. Kekakuan pada seluruh sistem syarafnya perlahan mulai terurai digantikan
dengan rasa nyaman. Ia merasa kembali ke masa lalu.
Rin mendengus setelah beberapa detik terdiam. Perlahan,
ia membuka mulutnya, berusaha mengeluarkan kata-kata. “…kau amnesia mendadak
ya?” Ia melepas sepatu, masuk dan menyorongkan tinju pelan ke pundak Sousuke.
“Sel-sel otakmu kering karena panas?” tambahnya dengan sedikit seringaian yang
masih terasa agak kikuk.
Sousuke mengerjap kemudian tertawa sambil merangkul
pundak Rin.
“ITU BARU RIN-CHAN!”
“TEMEE!” Tapi
Rin pun ikut tertawa (walau masih terdengar agak kaku), meninju Sousuke pelan.
Sousuke menepuk kepala Rin dari belakang sekali sebelum
beranjak ke pojok yang tampak seperti dapur. Pintu lemari es kecil dibuka. “Mau
minum teh dingin?” Tanpa menunggu jawaban, ia mengeluarkan satu botol besar
berisi teh dan es batu.
Rin duduk di depan meja kecil, menyilangkan kaki. Topi
dan jaket dibukanya, membiarkan panas yang membungkus kulit yang agak basah
karena keringat terusir angin sejuk dari kipas. Ia bersandar pada kedua
tangannya, menutup mata. Ekspresinya sudah tidak kaku lagi.
Sousuke kembali sambil membawa dua gelas, tersenyum lega
melihat betapa santainya Rin sekarang di apartemen kecilnya. “Douzo, douzo!” Meletakkan gelas-gelas tersebut di meja, cowok berambut
hitam itu kembali ke dapur untuk membawa botol besar teh dan dua bungkus plastik
yang berisi bongkahan-bongkahan es batu. “Rin!”
Yang dipanggil membuka mata dan berjengit ketika sesuatu
yang super dingin mengenai sisi keningnya. “SOUSUKE! OMAE!” Ia mendecak kesal sementara yang dihardik malah tertawa.
“Panas kan? Pakai ini buat mendinginkan kepalamu”
Sousuke menyodorkan sebungkus plastik berisi bongkahan-bongkahan es batu.
“Tempatku nggak ada AC sih, jadi tahan pake kipas angin dan ini saja ya”
Rin mengambil bungkus itu, mendengus geli namun ada
percikan pahit di matanya. “Kamu ini…”
“Hm? Apa?”
“…” Rin menghela napas, menempelkan bungkus plastik ke
keningnya sementara ia kembali menutup mata, merasakan dingin mulai mengusir penat
yang diakibatkan panas. “Kau sama sekali tidak berubah, Sousuke”
Sousuke tersenyum, menyesap es tehnya. “Manusia tidak
semudah itu berubah, Rin. Walau begitu, aku bukan anak kecil lagi…”
“…aku pun bukan anak kecil lagi”
Senyum Sousuke tampak berubah sedikit miris. “Sou da na. Kita bukan anak kecil lagi.
Tapi terkadang kupikir, tidak apa-apa untuk tidak melepas masa menyenangkan
itu”
Rin terdiam. Perlahan, ia membuka mata, menatap Sousuke
yang kebetulan sedang melihat ke arahnya. Mereka saling memandang tanpa ada
satu kata pun yang terucap, mungkin berusaha untuk lebih mencerna situasi dan
mencari kata pertama untuk membangun obrolan (apa saja, terutama obrolan yang
bisa mengundang nostalgi yang membuat mereka bisa sejenak benar-benar kembali ke
masa lalu). Namun di dalam hati, mereka tahu
bahwa bukan itu yang sebenarnya mereka inginkan. Bagaimana kabarmu? Bagaimana sekarang? Apakah kau baik-baik saja?—pertanyaan-pertanyaan
itu yang sebenarnya lebih ingin dilontarkan.
Sousuke mengatupkan rahang agak kuat kemudian membuka
mulutnya—
“Omae sa—”
tapi Rin lebih cepat. “Kenapa ada di kota ini?”
Sousuke terdiam sebentar, meletakkan plastik es di atas
kepalanya, menahannya di sana. “Hm, sekolah,” jawabnya agak santai namun ada
nada pahit aneh yang menggantung, seolah ia enggan untuk menceritakan apapun
lebih banyak.
“Hee…” Rin hanya bergumam walau sebenarnya bukan jawaban
pendek seperti itu yang diinginkan. Diletakkannya kantong es di atas meja
sementara ia mengambil es tehnya yang belum tersentuh, meneguk isinya sampai
tersisa setengah.
“Kau sendiri?”
Rin terhenti, hampir tersedak.
“Kapan pulang dari sana?” Nada yang menyelubungi
kata-kata terlontar dari mulut Sousuke sama sekali jauh dari mengintimidasi;
santai, tanpa berusaha untuk memojokkan.
Rin menggulirkan bola mata ke bawah, ke corak tatami
yang membosankan. “Beberapa…bulan yang lalu”
“Ooh…”
Mereka berdua kembali terdiam, membuat dengung kipas
angin menjadi semakin jelas. Kekakuan kembali muncul, menyelubungi udara. Rin
menelusuri tekstur es batu yang beberapa di antaranya telah mencair, sementara
Sousuke hanya sesekali meneguk es tehnya sambil tetap memegang kantong plastik
di kepala. Tidak ada yang bicara lagi, mata mereka juga tidak saling menatap
lagi, terpaku selain pada masing-masing keberadaan.
Sebenarnya masih banyak yang ingin diceritakan.
Sebenarnya masih banyak yang ingin diungkapkan. Apakah jarak empat tahun sudah
terlalu lama untuk mereka kembali bisa mengungkapkan dengan gamblang apapun
seperti dulu? Apakah jarak di antara mereka sudah terlanjur sangat lebar sampai
tidak ada satu pun yang bisa mereka lakukan?—
BRAK!
Kaget, Rin spontan mendongak, menatap Sousuke yang
tampak tengah menenggak habis es tehnya (sehabis menggebrak meja) lalu
menghempaskan gelas ke atas meja (di samping kantong plastik) agak keras. Harus
Rin akui, ia sedikit beringsut ke belakang ketika dilihatnya Sousuke tiba-tiba
aneh, seperti akan meledak. Seharusnya semua menjadi kenangan dan Rin sudah bukan
dirinya yang dulu tapi ingatan akan betapa menakutkannya Sousuke ketika marah (walaupun
ia tidak pernah benar-benar marah padanya) langsung mengendalikan alam bawah
sadarnya.
Sousuke menghembuskan napas, keras.
Diam.
“Baiklah, aku akan cerita,” sahutnya, mengangkat kepala,
tersenyum agak pahit. “Dengan begitu, kau nggak akan merasa terbebani kan? Walau
sikapmu seperti itu, kau terlalu serius dan aku tidak ingin membebanimu dengan
keingintahuan yang tidak ada gunanya—“
“Aku tidak—“
Tapi Sousuke dengan cepat memotong. “Orang tuaku
baik-baik saja di Sano, begitu pula dengan kakakku—ah, sekarang dia bekerja
sebagai nelayan bersama ayahku. Aku ke sini karena keinginan orang tuaku juga
keinginanku sendiri. Aku sudah tidak di klub renang lagi”—Rin membelalakkan
matanya dan Sousuke yang melihatnya, tersenyum—“tapi aku masih suka berenang—“
“Kenapa?” Suara Rin bergetar. “Kenapa kau tidak di klub
renang lagi?—“
“Aku tidak ingin buang uang untuk sesuatu yang tidak
lebih hanya sekadar hobi, Rin” Jawaban Sousuke menghujamkan pisau tak kasat
mata. “Aku sama sekali tidak terlalu berkembang sejak saat itu. Kau tahu
sendiri, aku tidak punya bakat—“
“BAKAT NGGAK ADA HUBUNGANNYA!”
“Rin, aku mengenal diriku sendiri, makanya aku berhenti—“
“TEMEE, FUZAKENNA—“
“Rin, aku harus melihat kenyataan. Aku tidak bisa jadi atlit
renang; aku tidak bisa menghasilkan uang dari berenang. Kau yang paling tahu
susahnya jalan untuk jadi atlit renang profesional, kan?”
BRAK!
Rin serta merta berdiri dan menghampiri Sousuke, berlutut
dan menarik kerah bajunya. Ekspresinya berbahaya. “Tapi setidaknya kau bisa
berusaha kan?”—nadanya hampir mengancam. “Fuzakenna
yo, Sousuke”
Sousuke memasang wajah tenang, menggenggam tangan Rin di
kerahnya. “Aku tidak main-main. Aku serius dan kau tahu itu. Rin, keuangan
keluargaku sedang tidak baik, dan aku bodoh. Aku tidak bisa mendapat beasiswa
apapun, tidak sepertimu. Hanya ini yang bisa kulakukan, hanya sekolah dan
belajar, berusaha untuk bisa masuk universitas yang baik dan menjadi pekerja
kantoran. Keluargaku sudah berusaha terlalu keras hanya untuk ini. Mereka
menginginkan kehidupan yang lebih baik dan aku tidak bisa mengkhianati mereka—“
“Tapi—“
“Tapi.” Sousuke mempererat genggamannya. “Tapi aku
bukannya berhenti berenang, Rin, aku hanya sudah tidak di klub renang. Kau
tidak perlu khawatir. Aku baik-baik saja” Sousuke tersenyum, mengangkat tangan
satunya untuk menepuk kepala Rin yang perlahan menarik tangannya. Sousuke pun
melepas genggamannya.
“…nande?”
Suara Rin samar.
“Tidak perlu berada di klub renang untuk terus berenang
kan?” Sousuke mendengus geli, agak pahit.
“Tapi kau berhenti berenang kompetitif”
“Yah, itu memang disayangkan”
Rin terdiam, menunduk, dalam hati sebenarnya ia
menyadari bahwa ia tidak bisa mengubah pendirian Sousuke. Walaupun terlihat
selalu tersenyum dan tampak ramah, Sousuke itu sangat keras kepala; Rin anggap
sifatnya yang satu itu lebih daripada dirinya sendiri. Dan ternyata sifat itu
masih sama, sama seperti dulu.
“Kenapa kau bisa begitu tenang?” Rin mengurut keningnya.
Sousuke tertawa kecil. “Karena aku bodoh?” Ia terdiam
sebentar. “Ini masalahku, Rin. Tidak perlu kau khawatirkan lagi karena aku
baik-baik saja”
Rin terduduk, menghela napas keras, masih frustasi.
Sousuke hanya tersenyum sambil meraih gelas Rin dan mengisinya lagi dengan teh,
lalu menyodorkannya. “Ochitsuke, kono
baka majime!”
Rin melirik gelas yang disodorkan, mengambil lalu
menyesap kemudian meneguknya.
Sousuke menggeliat sebentar, tersenyum lebar. “Aah,
leganya…” Ia meraih kantong plastik (yang sudah berisi hampir semua air) dan
menaruhnya di atas kepala. “Jepang itu musim panasnya level iblis. Oni da ze, oni” Ia mengambil kantong plastik satunya dan menempelkannya ke
pipi Rin, yang berjengit sedikit. Sousuke tertawa, dan Rin pun perlahan
tersenyum.
“Lalu, bagaimana?” Sousuke meletakkan kantong plastik
miliknya dan Rin di meja (es batu di dalamnya hanya tinggal bongkahan-bongkahan
yang mengambang di air).
Rin menelengkan kepalanya sedikit. “Apanya?”
Sousuke menurunkan kantong dari kepala kemudian
menahannya di leher. “Australia”
“…!” Rin hampir menjatuhkan gelas di genggamannya, tapi alih-alih
dengan tangan agak bergetar ia meletakkannya ke meja. Cowok berambut merah itu
mendadak panik, seolah merasa terpojokkan dengan tiba-tiba. Ingatan-ingatan
selama di negara itu kembali memenuhi dirinya; tidak, ia tidak ingin
mengingatnya, ia tidak ingin merasakan kembali keputusasaan, rasa sepi,
penghinaan serta kebencian terhadap dirinya sendiri—menumpuk, onggokan itu
bergerak dan mendesak. “A…” suaranya bergetar, jelas. Rin langsung menutup
mulutnya. Ia tidak ingin Sousuke tahu, tapi ia ingin cowok itu menyadari
ketidakberdayaan dirinya; kontradiksi yang menggelikan. Sesak, udara mendadak
susah keluar masuk paru-parunya. Sesak—
“Ketemu koala?”
Mata Rin terbelalak. Ia terkesiap. “…h-hah?”
Sousuke menatap Rin, dengan wajah serius. “Ketemu koala
asli nggak? Kanguru?”—lalu menepuk jidatnya. “Ah, tentu saja ya! Kamu pasti
sudah ketemu koala dan kanguru asli. Tentu saja! Ah, enaknya… aku juga ingin
ketemu koala dan kanguru asli…”—tampak sangat kecewa, seperti benar-benar
kecewa dan sedang tidak main-main.
Rin mengerjap, menatap Sousuke, antara kaget, heran,
tidak percaya—dengan mata yang masih mengabut dengan segala keputusasaan yang
membuncah dalam diri. Onggokan dalam hatinya seolah berhenti bergerak, perlahan
mengubah bentuk menjadi bongkahan es yang mulai mencair (sedikit demi sedikit,
karena onggokan itu masih enggan pergi). Sousuke benar-benar tidak berubah. Dia
benar-benar—
Saat itu, Rin ingin menghambur memeluk Sousuke dan
menumpahkan segalanya, melontarkan onggokan itu keluar agar dirinya menjadi
ringan. Tapi Rin tahu, akan sangat tidak adil untuk Sousuke jika ia seperti
itu; juga, akan tidak sangat adil terhadap impiannya sendiri, terhadap ayahnya,
terhadap dirinya sendiri, karena itu berarti ia kabur dan membuang itu semua
(dan bagi Rin, itu sama saja dengan perlahan membunuh diri sendiri);
kontradiksi yang menyakitkan.
“…koala…” Rin membuka mulutnya, menundukkan kepala. Ia
mendengus geli (tapi dengusannya bergetar karena pahit). “Koala dan kanguru ya…”
Sousuke hanya menatap teman lamanya, diam.
“Koala…” Mata Rin panas dan berair. “Bukannya… di kebun
binatang ada?” Ia mendongak, (mencoba) menyeringai. Sesuatu yang hangat
meluncur dari matanya. Rin terkesiap lalu menutup kedua mata dengan punggung
tangan, beringsut ke belakang. “Ah, ini—tidak, ini hanya… ini keringat, tahu!
Bukan—“ Rin terhenti di sana karena onggokan telah menyumbat pita suara. Yang
bisa dilakukannya hanya menggeleng sambil menahan sedu terselip dari mulut. Nasakenee naa. Saat itu, ia menyadari
bahwa ia pun tidak terlalu berubah, karena bahkan sekarang ia masih lebih lemah
dibanding Sousuke. Ia tidak bisa sepertinya; tidak bisa setenang itu, tidak
bisa—
Rin merasa tangan yang menutup matanya ditarik, badannya
juga otomatis ikut condong ke depan. Begitu sadar, yang pertama kali disadari menutupi
matanya adalah warna kaos Sousuke. Kepalanya disentuh oleh tangan besar yang
menawarkan kenyamanan yang begitu tulus. Sousuke sendiri tidak mengucapkan
apa-apa dan membiarkan Rin berada di posisi seperti itu.
Terhadap kebaikan bisu seperti itu, Rin hanya bisa memasrahkan
diri. Satu per satu bulir air mata mulai berjatuhan dengan bebas, membercak di kaos
Sousuke, sebagian lain berjatuhan ke celah sempit di antara mereka, ke tatami
yang bercorak membosankan. Rin menyelipkan seduan kasar. Sousuke menepuk-tepuk
pelan kepala Rin, samar namun menenangkan.
Merasakan pundaknya basah, Sousuke hanya tersenyum
antara lega dan pahit. Rin masih seperti dulu dan ia lega akan hal itu. Mungkin
hal tersebut akan menyakiti harga diri Rin, tapi Sousuke sangat lega mengetahui
bahwa teman lamanya masih sama seperti dulu, masih bersikap sama seperti dulu
ketika bersamanya. Rin masih anak kecil yang ada dalam ingatan bewarna sepia di
sudut otaknya. Ia berterima kasih karena bahkan sekarang, walau dengan jarak
empat tahun, ternyata tidak bisa serta merta memisahkan mereka.
Sousuke sangat lega, sama seperti ketika ‘menemukannya’
di antara tumpukan manusia yang berseliweran dalam ketidakacuhan. Sudah
beberapa kali, selama empat tahun itu, Sousuke mencari sosok seperti itu,
merasa menemukannya namun ternyata hanya bayang sia-sia. Kali itu, ia
benar-benar telah menemukan Rin; bukan bayang-bayang tapi benar-benar Matsuoka
Rin, sahabat—‘saudara’nya. Sousuke merasa kelegaan dan kebahagian seolah
membuncah dan ia ingin segera menarik cowok itu ke dalam pelukan erat dan tidak
akan melepasnya lagi, namun niat itu terhenti ketika melihat Rin tampak begitu
menderita (bersandar sendirian pada tembok sebuah toko kecil yang tutup karena
bangkrut). Ya, alih-alih segera ingin memeluk dan mengurai kesedihan yang
terpancar dari eksistensi yang sangat dirindukannya itu, Sousuke menahan diri.
Melihat Rin, ia tersadar bahwa selama empat tahun mencari sosoknya, Sousuke sebenarnya
hanya menginginkan pelarian—ia hanya menginginkan sandaran karena ia manusia
yang hanya bisa berpura-pura kuat. Akan tetapi setelah melihat Rin yang seperti
itu, Sousuke menyadari bahwa Rin lah yang paling membutuhkan itu. Sousuke
kembali diingatkan dirinya sendiri bagaimana dulu ia selalu yang menjadi sosok ‘kakak’
terhadap Rin dan betapa dengan begitu saja ia sudah berkali-kali ‘terselamatkan’
secara tidak langsung. Karena itu, ia memutuskan untuk kembali menjadi sosok ‘kakak’
bagi Rin, seperti dulu—untuk menyelamatkan cowok itu juga dirinya sendiri. Ia
tidak kuat; ia hanya picik; Sousuke merasa ingin menertawakan dirinya sendiri.
“…aku tidak bisa sepertimu, Sou…” Rin tampak sudah agak
tenang. “Kenapa kau bisa begitu tenang? Aku tidak bisa…”
“Kubilang juga, aku itu bodoh…”
“…aku tidak tahu lagi harus bagaimana. Aku tidak bisa
melihat apapun lagi di depanku; gelap dan aku tidak tahu harus berjalan ke mana
lagi. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana…” Rin mengenggam kaos Sousuke erat,
tangannya bergetar. “Aku tidak bisa apa-apa, aku bukan siapa-siapa dan aku
tidak akan menjadi apapun atau siapapun… Aku—“
Sousuke menepuk kepala Rin. “Rin. Sudah, tidak apa-apa.
Begitu pun tidak apa-apa” Ia bisa merasakan matanya agak panas. “Karena aku
yang seperti ini pun pernah berkali-kali berpikir begitu. Kita semua pernah
berpikir seperti itu. Sudah, tidak apa-apa. Ini bukan akhir. Selama kau masih
hidup, kau masih bisa terus berjalan—meski gelap, meski kau putus asa—kau—kita masih
bisa terus berjalan. Hanya itu yang bisa dilakukan. Jawaban akan kebingungan
harus ditemukan sendiri, karena itu kita masih terus berjalan” Sousuke menahan
diri untuk tidak menangis (karena ia bahkan tidak yakin dengan kata-kata yang
dilontarkannya; seperti mengatakan kebohongan manis untuk memperbaiki segalanya
walau dengan samar). Itu bisa makin memperburuk situasi karena Rin akan
mencemaskan hal itu. Rin masih seperti dulu, ia tahu.
Terdiam, kemudian perlahan Rin melepaskan diri dari
pelukan ringan Sousuke. Menunduk dalam, cowok berambut merah itu bergumam, “…nanka,
warui…” Onggokan itu masih ada, namun kali ini ia perlahan meleleh, sedikit
demi sedikit (berkat keberadaan Sousuke, berkat kata-katanya—yang ia sendiri
menyadari bahwa kata-kata itu hanya merupakan kata-kata, namun itu pun cukup. Itu
pun cukup, untuk sekarang). Kemudian, Rin mendengus pelan. “Kamu… memang
berubah…”
“Hah?”
“Sejak kapan kau jadi makin banyak bicara? Hal-hal
seperti itu lagi” Rin mendongak, terkekeh geli dengan air mata masih mengalir
dari matanya.
Sousuke tersenyum. Ia mengangkat tangan lalu menyorongkan
tinjunya. “Aku memang bodoh, tapi aku nggak sebodoh yang kau pikir” katanya
sambil tertawa.
Rin ikut tertawa. “Aku hanya kaget karena itu sangat
beda dari kamu yang dulu”
“Dulu aku terlalu naïf! Ah, memalukan~”
Rin tersenyum simpul. “Tapi, baik kamu yang dulu maupun
yang sekarang, aku—“ Dengung getar telepon genggam memotong perkataannya. “Ah,
warui” Ia mengeluarkan benda itu dari sakunya, menatap dengan agak kecewa.
“Mau kuantar sampai hotel tempatmu menginap?”
Rin mengerjap, jelas kaget. Ia belum mengatakan apapun.
“Kau di sini karena turnamen renang kan?”
“Kenapa bisa—“
“Samezukakoukou deshou?
Sekolahmu yang sekarang” Sousuke tertawa geli, merasa menang karena telah mengagetkan
Rin dengan pengetahuannya. “Sekolahku besok juga mengirimkan timnya. Samezuka
terkenal, tahu?”—Rin membuka mulut, bermaksud protes karena saat itu ia bahkan
tidak sedang memakai jaket Samezuka—“Ah, aku diberitahu temanku yang ikut klub
renang. Sebenarnya, besok aku juga akan ikut nonton, terutama karena ingin
bertemu denganmu, tapi takdir ternyata baik sekali—kita bertemu bahkan sebelum
itu. Haha”
Rin tidak bisa menemukan satu kata pun. Dia hanya
mengernyit, kemudian mengurut keningnya. “Kau sama sekali tidak berhenti
berhubungan dengan renang ya?”
“Kan sudah kubilang”
Rin terkekeh geli, lega.
“Mau kuantar?”
Rin menggeleng. “Tidak usah. Kau ada part-time kan?”
Sousuke terbelalak. “Bagaimana kau bisa tahu?”
Rin menunjuk time-table penuh coretan di pintu lemari
es. “Kelihatan tahu” Ia tertawa.
Sousuke menepuk jidatnya. “Ah, aku kurang waspada. Aku
kalah! Aaaa!”—tampak sangat kecewa.
Rin masih tertawa. “Kau tidak bisa benar-benar menang
dariku, Sou-Chan”
“Sialan kau, Rin-Chan!”
Dan mereka tertawa bersama selama beberapa saat sampai
Rin berhenti dan memakai jaket serta topinya.
“Arigatou na,
Sousuke”
“Bodoh, jangan bilang begitu” Sousuke memukul lengan Rin
dengan ringan. “Ah!” Teringat sesuatu, Sousuke mengambil tas lalu mengeluarkan
spidol dari sana. “Kemarikan tanganmu!”
Rin tampak enggan.
“Kemarikan” Sousuke menarik tangan Rin lalu menulis
sesuatu di telapak tangannya. “Alamat e-mail-ku. Kirim pesan setelah sampai
hotel, kalau tidak, aku kutuk kau, Rin”
“Apaan itu?” Rin terkekeh.
“Kutukanku seram loh” Sousuke menambahkan dengan nada
main-main. “Yosh! Selesai!”
Mereka berdua beranjak berdiri dan keluar dari apartemen
kecil itu. Sousuke mengantar Rin sampai ke jalan utama walau yang diantar sudah
ribut menolak (bahkan dengan selipan kata-kata kasar karena tampaknya Sousuke
tidak memperdulikan).
“Ja, Rin”
“Ja, Sousuke…” Rin mengangguk, kemudian berbalik—
“Nee, Rin”
Rin berhenti.
Sousuke melanjutkan, “Aku masih ada di sini. Kau boleh
mengandalkanku, seperti dulu. Aku ada di pihakmu, Rin” Ia mengacungkan jempol,
tersenyum lebar—bias kekanak-kanakan muncul pada ekspresinya.
Rin terdiam, merasakan kehangatan memenuhi dirinya. Ia
seperti menemukan kembali ‘rumah’ yang telah lama ia tinggalkan. Dan itu
menyenangkan.
Rin membalas dengan acungan jempol dan senyum lebar,
kemudian ia kembali berjalan—jalan yang masih gelap dan menyakitkan, udara
masih seperti di dalam laut namun kali itu sudah tidak terlalu menyesakkan.
Sudah tidak terlalu menyesakkan. Rin melihat telapak tangan yang tadi dicoreti
Sousuke: ada alamat e-mail dan—
Mata Rin agak membesar, kembali panas.
Itsumo dachi.
Kentou inoru ze. (= friend forever. I pray for your success)
.end.
By Natsu^^v on Friday, 27
September 2013 at 10.46 AM according to chibiChan
AN: udah selesaaaii~ cukup
susah juga bikin pering yang bahkan salah satu chara-nya hanya muncul sekelebat
di series-nya (cuma di novel pulak) asdfghjkll! m(/////)m
Tidak ada komentar:
Posting Komentar