Fandom: Starry Sky
Pairing: None
Genre/Rating: General, slight angst / PG
Kepala tengadah. Kurasakan
pupil agak mengecil karena cahaya cerah matahari pagi terlalu menyakitkan.
Mataku berat dan kering; saat itu aku menyadari berapa banyak air mata yang
telah kualirkan hanya pada akhirnya menghilang bersama kesunyian yang
kuciptakan sendiri karena aku enggan melangkah keluar dari teralis yang
terhubung dengan dunia luar. Bagaimanapun, aku belum sanggup untuk melangkah
membebaskan diri dari jeratan kesedihan yang terlalu kuat mengikatku.
“...” Nee-San...
Dan betapa sekarang kukutuk
matahari pagi, langit biru cerah , dan udara segar yang menyesakkan. Padahal
tak kulihat lagi senyum cerah itu, yang sekarang hanya berpendar samar dalam
ingatan yang kupahat kuat-kuat di otakku agar ia tetap hidup. Aku hanya ingin
ia tetap hidup karena ia adalah diriku, sandaranku, rantai untuk menjagaku
tetap berpijak. Tapi kini ia hanyalah ingatan. Walau hidup, ia hanya ingatan.
Dan ingatan tak akan menjelma menjadi kehangatan, tak akan lagi menggenggam,
tak bisa kurasakan. Ia hidup... tapi hanya ingatan...
Air mata seolah membendung
di pelupuk mata tapi sensasi dingin dan basah tak kunjung menyapa lembah pipiku
yang sepi dan kering. Ternyata, aku memang sudah tidak bisa menangis lagi
setelah banyak air mata yang telah kualirkan hanya untuk pada akhirnya
menghilang bersama kesunyian yang kuciptakan sendiri.
Nee-San...
Bahkan tak kusadari lalu
lalang eksistensi-eksistensi muram dalam balutan hitam suram. Aku hanya
bungkam, menatap kosong pada beberapa pasang mata simpatik dan senyum pahit
yang hanya bisa mendesirkan angin dingin tapi tak pernah bisa menarikku keluar
dari kerangka diri yang berteralis rapat. Tak kupikirkan lagi waktu, tak
kuacuhkan lagi dunia, dan aku beranggapan semua masa dalam diri hanya akan
terhenti, terkurung bersama hati, tak pernah merambat menumpuk pasir-pasir
detik membentuk jalan menuju masa depan. Waktuku berhenti ketika degup
jantungnya tak berdetak lagi.
Ya, kupikir begitu. Dan aku
tidak akan pernah menyesal. Karena dia adalah diriku. Dia adalah diriku dan aku
tidak akan hidup tanpanya. Karena diriku adalah dirinya. Semakin kupikir
seperti itu, semakin dalam hati ini mengubur diri ke dalam lubang hitam yang
terbentuk dari rasa kehilangan dan pasrah akan hidup. Sudahlah... —
Tercenung tiba-tiba,
kurasakan mata ini sedikit melebar seolah memastikan bahwa eksistensi yang baru
saja masuk dalam lingkup penglihatanku yang memburam akibat keenggananku
terhubung dengan dunia luar itu terpatri jelas pada proyeksi belakang retina
yang segera direspon sulur-sulur saraf otakku yang membiaskan ingatan lain yang
bertumpuk dengan pendar samar ingatan dia yang kucintai. Eksistansi itu, dengan
segera, menggelegakkan emosi diri yang kupikir sudah mati rasa. Eksistensi baru
itu sekilas menatapku lalu membuang pandangan dengan cepat dan kurasakan lagi
gejolak emosi dalam diri meletupkan percikan api yang menjilat-jilat liar mulai
menguasai hati. Kupikir aku akan meledak tapi masih kurasakan desir angin
dingin menahan api emosiku sehingga aku hanya berdiri tak bergeming.
Kenapa orang itu ada di
sini...?
Kenapa...?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu berputar
berdengung dalam kepala tapi tak bisa kujawab dan tahu bahwa tak akan terjawab
tapi sadar bahwa jawaban yang kubutuhkan menguar perlahan dari punggung
kesepian milik keberadaan di hadapanku yang sedang berdoa (atau apapun itu)
dalam kekhusyukkan yang menyedihkan. Dan saat itu, seolah jerat terlepas begitu
saja, kakiku tahu-tahu sudah melangkah maju dengan cepat, tanganku terulur
meraih pundak orang itu, menggenggamnya erat-erat karena aku memang berniat
menghancurkannya; eksistensi yang telah merenggut semuanya! Kenapa? Kenapa
orang itu...
Berani-beraninya...
Setelah apa yang
terjadi—percuma! Percuma saja kau sesali, percuma! Kau tak termaafkan. Kau!
Walau dunia membelamu, walaupun... walaupun belahan jiwaku memaafkanmu! Tapi
aku! Kau tak akan pernah kuampuni!
“—kh!!”
...
Lalu, tak pernah kuduga,
betapa mudahnya pundak itu kutarik, tubuh itu kusorong agar mata kami saling
menatap dan agar ia terbakar oleh kutukan yang berkobar melalui sorot mataku
yang masih terasa berat dan kering walau air mata seolah menggenang panas. Tak
pernah kuduga, betapa mudahnya, seperti meriak tembok udara. Tak pernah
kuduga... Tak pernah kuduga saat itu aku langsung tertahan dan tanganku yang
terkepal hanya diam tak mendarat, tak menyalurkan menumpahkan emosi yang masih
meluap-luap menyesakkan. Tak pernah kuduga...
“...!”
Terpaku, aku seolah
kehilangan api yang menjilat-jilat liar hatiku, seolah semua lenyap dan
tersisa, kembali pada kekosongan yang terlalu menyedihkan. Aku termangu,
pandangan mataku seolah terfokus pada imaji eksistensi di hadapanku kini.
...aku hampir tak
mengenalnya.
Apakah karena bulir
berkilauan yang menuruni lembah pipinya yang pucat? Apakah karena sorot mata
yang terbiaskan oleh awan kelabu menggantung di iris hijaunya? Apakah karena
ekspresi yang baru pertama kali kulihat itu (seolah kesedihan telah merupakan
diri dan menjadi topeng transparan di wajahnya)?
“I...”
Apakah... Apakah karena
getar suara yang terasa asing? Yang semuanya sampai menghujamkan pisau tak
kasat mata, menembus teralis dan menyelubungi diri meredam api seperti air bah.
Menyesakkan.
Padahal seharusnya...
Seharusnya aku yang—
“...Iku...”
Silabel yang merupakan
namaku, yang meluncur dari mulut itu hampir tak kukenali karena getar pahit
yang menyertainya tidak pernah ada dalam ingatanku akan keberadaan orang itu.
Apakah suaranya selalu begitu? Yang ada dalam sudut kenanganku hanyalah nada
datar terkesan bosan namun lebih lembut dan terselipi kebaikan yang
menenangkan. Dalam ingatanku, yang tersimpan, yang terekam, hanyalah nada
seperti itu. Lalu apa yang barusan kudengar? Aku tidak mengenalinya. Sejak
kapan ia mempunyai nada dan getar suara seperti itu?
“...” Tapi bahkan aku tidak
bisa mengeluarkan gumpalan kusut pertanyaan yang mengganjal berputar-putar
dalam benak. Aku hanya mampu terpaku, dan tanpa kusadari, mulai menguraikan
simpul-simpul erat syaraf yang sempat menegang akibat luapan emosi barusan. Tanpa
bicara apapun, aku hanya bisa terpaku di sana. Namun, mata berat dan kering ini
masih menangkap sosok tak kukenal di depanku, dan telingaku masih masih
menangkap getar suara yang asing darinya.
Perlahan, tanpa kusadari,
aku menarik kembali kedua tanganku. Masih dengan mata nanar, aku menatap sosok
di hadapanku yang tetap dengan ekspresi putus asanya, sesekali dengan jelas
berusaha mengindari sorot mataku walaupun kini aku tidak lagi memiliki
keinginan untuk menghancurkannya dengan api dendamku. Entahlah, aku pun tidak
tahu. Padahal perasaan takkan-memaafkannya masih bisa kurasakan dengan jelas,
begitu nyata, seolah memberati diri dengan beban yang entah dari mana asalnya,
menghujamkan sosokku di sana, terpaku.
Angin berhembus, sejenak
mengalihkan perhatianku tapi tetap tidak cukup untuk menghancurkan tembok tebal
transparan di antara aku dan dia. Kouta-Nii, begitu selalu aku menyebutnya.
Namun, kali ini tenggorokanku sudah terkunci, dan nama itu tertelan begitu saja
terhempas kembali ke dalam diri. Betapa inginnya kulupakan nama itu, namun
sekarang niatan itu seolah membias, bersama dengan sosok menyedihkan yang
tertangkap oleh proyektor otakku. Aku masih tak memaafkannya, tapi dendam kini
seolah menyurut menghilang bersama munculnya rasa ‘simpati’ yang tidak ingin
kuakui. Tapi...
...Nee-San...
Ternyata aku tidak bisa. Sensasi
kehangatan masa lalu dengan seenaknya menyeruak kembali dari sudut ingatan yang
berdebu, dan itu membuatku luluh. Betapapun, betapapun aku membencinya,
betapapun ia merupakan orang yang tidak bisa termaafkan, tapi... tapi di sudut
hati kecilku, aku tahu aku masih menyayanginya. Seperti belahan jiwaku yang
selalu, selalu menyayanginya. Kami menyayangi Kouta-Nii. Kami selalu
menyayanginya. Ya, kan, Nee-San?
...Nee-San, aku tidak tahu
lagi. Beritahu aku, apa yang harus kulakukan?
“...gomen...”
Getar suara itu
menyadarkanku.
Kulihat ia menggulirkan
bola mata hijaunya ke bawah, dan baru kusadari ada semburat kemerahan di sana.
Matanya sembab dan wajahnya kacau. Sejak kapan...? Sejak kapan ia seperti itu?
Dan kurasakan ada ruang kosong dalam otakku lalu pertanyaan-pertanyaan yang
menggumpal di sana. Sudah berapa lama aku tidak melihatnya? Sudah berapa lama
kami tidak bertemu sejak itu? Mungkin hanya beberapa jam atau beberapa hari
entahlah, tapi hampa yang terasa telah menyamarkan semuanya dan jarak yang ada
sekarang kurasa sudah terlalu jauh. Sudah terlalu... jauh.
...apa yang harus
kulakukan?
Di saat kubertanya demikian
dalam hati, ia mengulurkan tangannya (dan bisa kulihat keraguan membuat
tangannya bergetar). Ia menyentuh wajahku, pelan, dangkal, samar. Kesedihan seolah
melumat di wajahnya, ditandai dengan air mata yang luruh dan senyum pahit. Dan...
dan aku masih terpaku, tak tahu reaksi seperti apa yang harus kuperbuat.
“...gomen...”
Suaranya pecah di udara,
kepingannya berserakan tersebar dan aku hanya bisa menangkap beberapa di
antaranya. Masih tergagu di sana, aku membiarkan sosok itu berlalu melewatiku
seperti angin musim dingin, perlahan tanpa suara. Namun demikian, hembusan
dingin-kering-samar itu seolah telah membobol bongkahan dalam hati lalu
meluapkan air danau dari sana, melumatkan jilatan api yang kian redup.
Pandangan mataku kabur, membiaskan dunia ke dalam keabstrakkan yang menyilaukan
yang hanya terdiri dari warna-warna dan bukan bentuk-bentuk nyata.
Satu tetes air menuruni
lembah pipiku. Dingin sekaligus hangat.
Dan aku tahu itu hanyalah
ilusi ketika sekonyong-konyong, dari dunia abstrak yang hanya terdiri dari
warna-warna dan bukan bentuk-bentuk nyata itu, cerminan diriku mengulurkan
tangannya kemudian memelukku. Cerminan, diriku yang seorang lagi, belahan
jiwaku yang sangat kucintai.
Nee-San—?
Menangis, tersenyum, dalam
kekaburan ilusi yang menyenangkan itu ia membelaiku; sentuhan hampa yang sama
sekali tidak membekas, tidak mewujud bahkan menjadi desir udara. Air mata deras
meluruh dari mata; basah, pada akhirnya cerah seolah runtuh dan aku kembali
terjatuh dalam lubang—yang walau sekarang tidak terlalu suram, tetap
meremukkan, menggerogoti diri (bahkan ketika hanya serpihan yang tersisa di
sana). Rindu membuncah menenggelamkan, menyesakkan, tapi aku ingin tetap
demikian. Aku ingin tetap demikian...
Nee-San...
Ingin kuselipkan apa yang
selama ini berbelit di otak melalui pita suara, melalui getar lidah melalui
mulut melalui bibir. Aku ingin mengalirkan perasaan, membanjiri udara dengan
riuh kata-kata dalam pusaran emosi yang kuharapkan berlabuh padanya (walau aku
tahu itu tidak mungkin; karena ilusi tidak akan terpengaruh apapun, tidak akan
memberi tanggapan apapun, tidak akan mewujud bahkan merubah semburat ekspresi).
Aku ingin melakukan itu, tapi suara tersangkut begitu saja entah di suatu
tempat dalam rangka diri. Mungkin karena terlalu menyesakkan, mungkin karena
jika suara tercipta, ilusi akan hilang seperti buih yang enyah ketika diriakkan.
Aku tak tahu. Aku tak tahu...
Nee-San... aku tak tahu...
apa yang harus kulakukan tanpamu?
Tolong aku...
Jangan tinggalkan aku...
Tanpa pegangan, tanpa
sandaran, kehilangan setengah jiwa, aku tidak sanggup menjalani kehidupan seperti
itu. Padahal ingin kukatakan, ingin kuhempaskan gumpalan itu, tapi aku hanya
bisa terpaku dengan lelehan air mata, menatap senyum pahit ilusi di hadapanku
yang seolah mengatakan bahwa kita tidak bisa mengalahkan kuasa waktu: ia sudah
berubah menjadi kenangan, sedangkan aku akan tetap berpijak dalam kenyataan. Perlahan,
meskipun aku sama sekali tidak ingin, tapi jauh dalam hati dan insting logis di
sudut otakku mengakui bahwa tidak seharusnya aku menenggelamkan diri lebih jauh
lagi dari sekarang.
Namun... meski demikian, ada
satu hal yang tetap menjadi ganjalan—menggumpal dalam hati, menusuk-mencekik
sampai terasa sakit. Dalam kegaguan, keheningan yang terlalu sayang untuk diriakkan,
dan pandangan yang mengabur akibat air mata (walau hanya ilusi itu yang tampak
jelas, masih tersenyum pahit, masih menangis dengan ekspresi lembut yang lekat
dalam ingatan), aku membuka mulutku. Kupaksakan diri walau akhirnya yang
terhembus bukanlah riuh melainkan desir yang membentuk kata-kata dalam balutan
getir.
“...Nee-San...menyesal?”
Hanya itu. Hanya satu
gumpalan itu yang ingin kulumatkan segera, agar jilatan liar api dendam tidak
akan membakarku lagi (saat itu, bayangan akan mata hijau bening dan getar suara
yang hampir tak kukenali kembali melintas, kini seolah membaur dalam otak
bersama ilusi yang masih terekam di sana). Ya, aku tidak ingin lagi. Bagaimanapun,
aku tidak pandai mengatasi kontradiksi dalam diri. Aku tidak ingin perasaan
yang terbangun dalam waktu yang tidak singkat (melalui ingatan akan mata lembut
ekspresi malas dan nada bicara yang menenangkan serta kebersamaan membahagiakan
yang seolah dapat berlangsung selamanya, juga ikatan terhadapnya) menghilang
begitu saja dalam sekejap seperti napas putih musim dingin yang segera membaur
pada udara tanpa warna—itu sangat tidak tertoleransi, bagaimanapun juga.
Ilusi itu hanya tersenyum,
damai dan melankolis. Kemudian angin berhembus, perlahan membuyarkan gumpalan
ilusi itu menjadi titik-titik warna abstrak yang meleleh dalam dunia nyata.
Terpaku, aku tidak sanggup berteriak menyuruhnya untuk tetap tinggal, untuk
tetap terkait, untuk tetap… ‘hidup’. Mataku mencari-cari sosok ilusi itu dengan
putus asa, tapi nihil. Yang tertinggal bukanlah wujud, melainkan gaung samar
suara yang seolah sudah lama kulupakan. Suara yang membangkitkan nostalgi yang
menyakitkan, namun tidak terelakkan, itu suara yang paling kucintai.
Iku, Kota-Nii
wo yoroshiku ne. Kota-Nii wa dareka ga mitenai to mucha wo suru kara.
Air mata kembali menuruni
lembah pipiku yang dingin, deras.
...Yakusoku.
Tidak ada kesedihan dalam
nada itu, tidak ada penyesalan, tidak ada dendam. Hanya ketulusan. Ketulusan
yang manis. Dan itu kembali menghancurkanku, namun tidak dengan kepahitan yang
menyesakkan. Terjatuh berlutut di depan apa-yang-tadi-tidak-ingin-kusebut-pusara,
aku mulai terisak.
Kata-katanya masih
bergaung, bergemuruh bersama rekaman ilusi belahan jiwaku dan bayang bola mata
hijau samar yang sayu. Aku tidak tahu apakah aku bisa menerima ketulusan manis menyedihkan
dari belahan jiwaku. Aku masih tidak tahu. Tapi satu yang kuyakini, ia tidak
menyesalinya. Ia tidak menyesali semua yang sudah terjadi, ia tidak menyesali
harus menjadi kenangan dan meninggalkan jejak samar dalam kehidupan. Tapi aku
tidak tahu.
Aku hanya tidak tahu.
Tidak tahu.
“…Kota-Nii… gomen…”—bisikan
samar.
End
19 November 2012 at 1.06 PM
(according to the clock in the compie orz)
Natsu^^v
Tidak ada komentar:
Posting Komentar