Inside me, there's still other one exist And she's the one I always spoil and forever love to an extend I made this blog for her ;"P
Jumat, 16 November 2012
(fanfiction?) Broken (part 2/2)
Fandom: (emg bs dsbut fandom? LOL) Arashi e ~ to the storm
Pairing: Arashi (Narumiya) Ritsu X Serizawa Rei (OC deyadaisuke)
Rating: PG-15 (natz ragu sih...)
Summary: Apa yang akan terjadi jika sesuatu yang berharga kembali terenggut dari dirinya?
Warning: SEMUA CHARA YANG ADA DI SINI LUMAYAN ABNORMAL (LOL) dan semua plot serta karakter serta tulisan natz yang pegang hak cipta yo =)) =)) and no offense terhadap nama dan tempat yo =)) =))
Part 2
Makan siang berlangsung dalam suasana serba berat dan canggung. Kirito hanya diam, masih merasa bersalah karena tadi Rei tidak memberinya hukuman yang berat kecuali menyiapkan semua makan siang menggantikan Arashi. Dan cowok itu? Cowok leopard putih itu masih terlihat santai melahap makanannya tanpa ekspresi yang mendekati penyesalan, malah masih tersungging senyum manis di wajahnya yang surreal.
Rei menghembuskan napas agak keras sambil meletakkan pisau dan garpunya.
“Hyou-Kun,” sahutnya, dingin dan datar seperti biasa. ”Aku tidak akan terlalu mempermasalahkan kau menggoda pelayanku. Kalau sampai Kirito tergoda itu salahnya. Aku tidak merasa keberatan asal kalian tidak sampai kawin lari saja dan merepotkanku. Tapi aku rasa Chieko tidak akan suka dengan itu”
Tangan Arashi terhenti. Kekehan geli terselip dari mulutnya. Ia menghela napas singkat. “Tapi Rei-sama tidak bilang ke Chieko-sama kan?”
“Cepat atau lambat wanita itu bakal tahu. Kau hanya beruntung karena hari ini dia pulang larut” Rei menyesap wine-nya dengan sikap masih dingin dan tenang.
Arashi tersenyum separo, seolah meremehkan. “Chieko-sama seharusnya sudah tahu dari dulu aku ‘penggoda’ karena dia menemukanku di tempat itu. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dia akan marah atau tidak. Kalau dia marah, itu salahnya sendiri. Berarti, dia tidak kenal aku. Well, aku tidak akan kaget. Semua pelangganku memang pembohong besar. Mereka selalu berkata seolah mengenalku dengan baik, tapi yang mereka lihat hanya diri mereka sendiri”—melahap potongan daging dari garpunya.
Tang!
Rei menyorotkan pandangan tajam pada sang leopard. “Sudah cukup. Jangan bicara lagi”
Arashi malah tertawa. “Are? Membela ibu tiri Anda, Rei-sama? Kupikir Anda membencinya?”
“Aku hanya tidak suka makanan ini jadi tidak enak hanya karena omongan binatang sepertimu” Menenggak habis wine lalu melap mulutnya, Rei beranjak. Kirito dengan segera menggeser kursinya ke belakang dengan tangan agak gemetaran. Ia masih segan pada nona muda-nya.
“Gochizousama deshita!” Rei berkata dengan suara agak keras. Terakhir kali, ia melemparkan pandangan tajam pada Arashi yang membalasnya dengan sorot mata tenang seolah sedang mempermainkan gadis itu. Gigi Rei beradu. Rahang terkatup. Sesaat ia tidak menemukan suara untuk membalas ketenangan itu namun didesaknya ganjalan di tenggorokan untuk enyah dari sana. “Behave well, Hyou-Kun”
Arashi terdiam sebentar, menelengkan kepala dengan gerakan perlahan. “Tashikomarimashita, Ojou-sama” Sesaat setelah Rei berbalik, cowok itu malah melanjutkan, “Nee, Rei-sama. Kalau Anda segitu cemburunya pada Chieko-sama dan Kirito-san, Anda boleh menggoda dan menyerangku. Aku tahu, Anda menginginkanku”
Prang!
Rei menyapu piring dan gelasnya sampai pecah di lantai. Ia tidak berbicara apa-apa lagi sementara Arashi dengan santainya menikmati wine. Napas Rei memburu akibat kesal, tapi dalam hati ia panik karena Arashi tampaknya menyadari. Ia terlalu memandang remeh binatang peliharaan ibu tirinya kali itu. Dengan langkah agak cepat dan lebar, Rei meninggalkan ruangan tapi berhenti ketika didengarnya langkah lain mengikuti.
“Biarkan aku, Kirito. Aku ingin sendiri!” Dan gadis angkuh itu pun kembali berjalan tanpa menoleh sedikit pun.
Arashi Ritsu. Rei mengatupkan rahangnya agak kuat lagi karena ia perlu menyingkirkan rasa panas yang merayap di mukanya. Gadis itu menggeleng agak keras, ia tidak boleh jatuh! Tidak sekarang!—berkali-kali hal itu dibentakkannya dalam kepala.
Tangan memegang pegangan pintu kamar yang dingin lalu diayunkannya pintu. Rei bergegas masuk, langsung menutup pintu sambil bersandar di daun pintunya. Ia tidak terlalu perduli debuman keras yang ditimbulkan karena tiba-tiba saat sendiri di dalam kamar, seluruh tubuhnya seolah meledak.
Beringsut terduduk di lantai, Rei tidak menyadari air mata yang perlahan meluncur turun dari sudut mata ke tebing pipinya yang tampak memerah. Matanya terpejam. Rahangnya makin terkatup erat, mencegah keluarnya tangis yang mungkin saja berhasil kabur dari tenggorokan sebelum sempat ia cegah.
Ok. Rei akui sekarang. Dia akui. Rei cemburu.
Konyol!
Bug!
Rei tidak perduli tangannya mati rasa akibat memukul kayu di belakangnya. Rasa kesal, marah, sesal, dan ‘kalah’ terlalu menguasai hatinya sekarang.
“…Hyou-Kun…” Rei menekuk kedua kaki lalu memeluknya, membenamkan kepala. “…Arashi…Ritsu…” Tangisannya yang lirih, teredam. Baru kali itu ia menyadari bahwa hidupnya sama sekali jauh dari kebahagiaan. Baru kali itu ia merasa kesendirian terasa sangat menyebalkan.
~*+*~
Kirito masih terdiam di tempat. Tangannya yang saling mengenggam mengepal sampai gemetar karena sesal. Napasnya hampir memburu tapi ditahannya agar tetap stabil walau masih terselip getar yang lirih. “Ojou-sama…” Rasanya ia ingin seppuku saat itu juga. Ia telah mencoreng nama baik butler keluarga Serizawa. Seharusnya Rei tadi menghukumnya habis-habisan.
Arashi meletakkan garpu dan pisaunya hampir tanpa suara, melap mulut lalu menyesap wine sedikit dengan gerakan agak perlahan. Matanya melirik pada sang butler yang berdiri agak jauh. Arashi menghela napas, meletakkan gelas wine dan menelusuri tekstur licinnya dengan satu jari.
“Kirito-San…,” mulainya memecah keheningan dengan nada yang tenang seperti biasa.
Yang dipanggil tetap bergeming di tempat.
Arashi melanjutkan, “Chieko-sama tidak akan pulang malam ini. Ia ada urusan. Itu yang dibilangnya padaku tadi malam” Tidak terlalu memperdulikan Kirito, Arashi masih berkata, “Malam ini, datanglah ke kamar…”
“Arashi-San! Saya tidak akan jatuh lagi ke perangkap Anda!” Kirito hampir membentak, tapi ditahannya. Walau peliharaan Serizawa Chieko, Arashi masih bisa dikatakan tamu di mansion itu. Dan bukan sikap yang bijak bagi seorang butler Serizawa untuk tidak memperlakukan tamu dengan baik. “Sebaiknya Anda menjaga sikap Anda. Ini bukan di bar. Dan saya tidak pernah punya niat untuk melakukan dengan Anda”
Arashi tertawa, tapi tawanya agak getir. “Begitu…” Ia menghela napas berat. Kirito bahkan agak kaget menyadari perubahan drastis tersebut. Ada apa sebenarnya…?
Lagi, Arashi menyesap wine-nya sedikit.
“Benar juga…,” sahut cowok leopard putih itu hampir berbisik. “Dengan adanya kejadian tadi, bukan tidak mungkin kau jadi membenciku” Ia mendengus antara geli dan pahit. Ekspresi wajahnya tiba-tiba berubah sendu, matanya yang bening menjadi semakin bening. Ironisnya, sosok yang menampakkan kesedihan itu justru semakin terlihat surreal, dan… ‘indah’.
Kirito menahan napas. Matanya agak membesar menatap cowok di depan. Ia bahkan tidak terlalu bisa berkonsentrasi lagi terhadap inderanya saat Arashi perlahan bangkit dan menghampirinya. Kirito hanya bisa terpaku di sana, bahkan ketika cowok berkalung kulit berkilat itu menyentuh wajahnya perlahan hampir ringan.
“Gomen…,” bisik Arashi lirih. Ia melangkah—
Grep!
Kirito tidak tahu lagi apa yang mendorongnya kali itu untuk menahan tangan Arashi Ritsu. Mungkin saja karena situasi di mana hanya ada mereka berdua di sana. Mungkin saja terselip di antara lirih atau tawanya yang terlampau pahit, atau sosoknya yang semakin ‘indah’. Kirito jelas tidak mengerti apapun. Bahkan ketika ia menarik cowok berambut blue black itu mendekat dan menciumnya sementara kedua tangan dilingkarkan di pinggangnya yang ramping untuk ukuran cowok.
Arashi tersenyum dalam hati tapi senyumnya kali ini bukan seringaian puas, melainkan penuh dengan kegetiran. Ia ‘memilih’ Kirito bukan tanpa alasan. Ia hanya memeluk ilusi karena bayangan orang itu selalu bisa dilihatnya terbias pada sosok sang butler. Seolah ia bisa kembali ke masa lalu, jauh bahkan sebelum ia mengenal cinta abadinya. Seolah dengan itu, dirinya bisa sedikit terselamatkan.
‘Ryuu…’
~*+*~
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 1 pagi.
“…kali ini juga ya…?” Bisikan di antara helaan napas.
Sudah hampir dua hari Chieko tidak pulang ke mansion. Rei sempat heran akan hal tersebut tapi tidak diacuhkannya karena dalam hati ia sangat bersyukur wanita itu tidak menginjakkan kakinya yang kotor itu ke kediaman Rei. Sebenarnya kalau bukan karena ingin mempermainkan, Rei tidak akan membiarkan wanita seperti Chieko masuk ke mansion pribadinya. Pada akhirnya semua untuk menyenangkan hati nona muda itu saja. Bukankah itu hal yang wajar? Rei menganggap dirinya ratu. Bahkan, ayahnya tidak bisa sepenuhnya mengontrol gadis itu.
Rei menghentikan tangannya di atas keyboard notebooknya, sementara menunda pekerjaan rumahnya membuat makalah. Ia terhenti karena pikirannya yang menganggap ia ada di ‘atas’ perlahan mulai runtuh seiring merayapnya perasaan aneh yang mendekati ‘kalah’ ketika bayang Arashi memenuhi layar tak kasat mata yang menempel tepat di irisnya. Ia tidak sanggup mengenyahkan sosok itu.
Seolah tidak memperdulikan ketidakhadiran majikannya untuk waktu yang cukup lama, Arashi Ritsu masih bersikap biasa, masih seperti leopard putih yang anggun dan angkuh. Yang berubah hanyalah sikap Kirito padanya. Rei menyadari bahwa butlernya itu kini telah sepenuhnya ‘jatuh’ karena ketika cewek itu menatap Kirito, cowok itu tidak mau menatap balik. Dan Rei berusaha untuk tidak terlalu mempermasalahkan. Sungguh.
“Aku tahu, Anda menginginkanku”
Bibir bawah digigit. Darah perlahan merembes keluar. Rei melepas gigitannya membiarkan setitik cairan merah itu mengalir menuruni bibirnya menuju dagu. Bersamaan dengan itu air matanya mulai menetes lagi. Luka luar memang menyakitkan tapi itu masih lebih baik daripada hati dan perasaan juga harga diri yang tercabik oleh kenyataan yang bahkan tidak bisa dipungkiri oleh Rei sekalipun.
Rei beranjak menuju jendela dan menyingkapkan tirainya sedikit. Kegelapan malam langsung menyapa membuat perasaan sentimental makin memeluk hati yang sudah ringsek hampir tak berbentuk lagi.
Ia… kalah.
Benar-benar.
Kalah.
Tangan mengepal dengan erat, kain tirai yang digenggam mencegah kuku-kuku agak panjang menusuk kulit telapak yang putih. Menghembuskan napas keras, Rei menghentakkan tirai dan berbalik, membuka pintu kamarnya untuk keluar. Berdiam diri lebih lama bisa membuatnya gila.
Gadis itu melangkahkan kakinya di keremangan yang masih bisa diatasi mata. Tiba-tiba saja ia ingin minum sesuatu, segelas whiskey mungkin saja bisa membantu menguraikan kekusutan di pikiran. Walau sebenarnya tidak terlalu suka minuman beralkohol kuat, Rei tidak memungkiri bahwa kadang-kadang ia butuh.
Langkah terhenti. Rei membulatkan matanya menatap sosok yang dengan tenang menyesap segelas kecil gin (botolnya tergeletak di atas meja di sampingnya).
Seperti tersadar ada keberadaan lain, Arashi menoleh lalu segera saja tersenyum sambil menggerakkan gin-nya ke arah Rei, seolah menawari nona muda itu. “Tidak bisa tidur?”
Gadis yang disapa membuang muka tetap menghampiri karena lemari penyimpanan minuman beralkohol ada di dekat cowok itu. Setelah mengeluarkan sebotol whiskey yang masih baru lalu sebuah gelas kecil, Rei bergegas pergi dari sana tapi tertahan oleh tangan di pundaknya.
“Tunggu” Arashi meletakkan gelas di atas meja. Ia membalikkan tubuh Rei dengan mudah, hanya dengan satu tangan. Ada kecemasan ganjil yang tergurat semu di wajahnya.
Rei menyorotkan pandangan tajam, tidak berkata apapun tapi itu seharusnya cukup untuk membuat Arashi ‘mundur’. Tapi Rei lupa yang dihadapinya ini bukan cowok kebanyakan. Dia Arashi Ritsu, dan ia tidak akan terpengaruh oleh keangkuhan seorang Serizawa Rei yang selalu bisa membuat banyak orang tunduk langsung padanya. Lihat saja, bahkan Arashi seolah tidak perduli, mengambil botol whiskey dan gelas dari tangan gadis itu dan diletakkannya ke meja di samping botol gin dan gelasnya.
“Apa yang kauinginkan?” Nada yang paling berbahaya yang pernah dibuat Rei dengan suara soprannya.
Namun bahkan tidak terpengaruh, Arashi meletakkan kedua tangan di pundak kecil Rei lalu menariknya mendekat. Tanpa basa-basi, cowok itu membungkuk sedikit lalu mencium Rei.
Gadis itu membelalakkan mata kaget. Pikirannya langsung menjadi kosong sama sekali dan ia seolah dihempaskan ombak besar kembali ke laut saat bibir mereka bertemu. Panas merayap dengan cepat ke sekujur tubuh. Perlahan, Rei menutup mata. Tangan diangkat, menyentuh punggung cowok itu dengan ringan lalu berhenti di pundaknya.
Rei merasa luka di hatinya terbuka lagi karena menyadari bahwa setelah memeluk Arashi, gadis itu semakin yakin ia menginginkannya melebihi apa yang selama ini dipikirkannya tentang cowok itu. Tapi…
Didorongnya Arashi menjauh. Rei langsung menampar cowok itu dengan keras. “Binatang!” Napasnya memburu sementara ditahannya kuat-kuat agar air mata tidak turun. Memalukan jika sampai dilihat terlalu lemah di depan cowok seperti itu.
Arashi menyentuh pipinya yang panas, tersenyum. Ia menoleh dan berkata dengan nada tenang, “Syukurlah darahnya sudah hilang. Kalau dibiarkan begitu, nanti bisa kena tetanus. Aku hanya memberikan antiseptik alami saja”
Panas sudah menguasai wajahnya sekarang yang mulai rona merah. Rei menghentakkan kaki ketika melangkah ke depan untuk mengambil botol whiskey dan gelasnya. Ia tidak berkata apa-apa lagi. Mungkin karena ia terlalu marah dan kesal atau mungkin karena pikirannya terlalu kosong untuk membalas perkataan Arashi. Gadis itu bahkan tidak terlalu mengerti. Yang diketahuinya, ia ingin segera enyah dari sana.
Arashi menatap punggung Rei menjauh sampai sosoknya benar-benar disembunyikan keremangan. Mata yang terpaku pada sosok gadis itu tampak sayu. Bibirnya membentuk senyuman kecil yang tidak bisa dibilang bahagia, lebih mendekati ‘pahit’.
Menghela napas, ia mengambil botol gin dan langsung menyesap isinya sampai tinggal setengahnya. Beringsut duduk di lantai, cowok itu menekuk lututnya sementara kedua tangannya terkulai di samping. Botol gin itu bergulir, isinya membentuk kubangan yang berkilat tertimpa cahaya bulan yang berhasil menembus gorden putih.
Arashi menengadah, bersandar sepenuhnya pada meja mirip kubus itu. Air matanya yang bening perlahan turun. Matanya tertutup. Bayang-bayang senyuman yang sangat dikenalnya dengan baik mulai berkumpul di pelupuk mata. Mungkin karena Rei. Arashi seolah mendapati bentuk kenangan tentang gadis yang sangat dicintainya itu semakin mendekati sempurna. Dan cowok itu menyadari sepenuhnya bahwa dengan apapun ia tidak akan bisa menutup lubang yang sudah terlalu dalam di hatinya.
“…Saori…”
~*+*~
Begitu Rei bangun keesokan harinya ia merasa masih hidup dalam mimpi. Pengaruh whiskey, gadis itu selalu bilang pada diri sendiri. Karena tidak seperti biasanya, yang membangunkan pagi itu bukan bunyi alarm yang nyaring melainkan telepon yang membawa berita bahwa ayahnya meninggal.
Rei merasa masih hidup dalam mimpi. Bahkan ketika menyadari ia sudah berpakaian hitam dari kepala sampai ujung kaki dan bergegas menuruni tangga diikuti Kirito yang berwajah murung namun sangat serius. Gadis itu masih belum bisa mencerna apapun bahkan ia seolah tidak bisa melihat sekelilingnya saat itu. Semua menjadi transparan di matanya dan ia hanya melihat warna warni tidak berarti yang membias menjadi monokrom tak kasat mata.
Orang-orang dalam balutan pakaian gelap datang dan pergi. Rei membungkuk sekadarnya, masih bungkam.
Beberapa saat yang lalu saat peti diturunkan ke dalam lubang kotak rapih, Rei merasa yang di dalam peti itu orang lain dan ia tidak punya perasaan khusus terkecuali hampa terhadapnya meski dilihatnya Chieko menangis tersedu-sedu. Gadis itu bahkan tidak punya niatan untuk mengatakan hal yang sarkastis pada wanita itu. Padahal jelas, jika ia seorang Serizawa Rei yang biasanya, ia akan setengah mati menyumpahi wanita itu dengan kata-kata tajam dan ekspresi yang kaku.
Tapi tidak hari itu. Tidak saat itu. Entah kenapa.
“Kirito…”
“Ya, Ojou-sama”
“Aku ingin pulang ke Mansion”
Ada sedikit jeda.
“…baik, Ojou-sama”
Lalu Rei pun melangkah menjauh dari kerumunan orang-orang berpakaian hitam yang menatapnya dengan pandangan simpatik. Kirito mengikuti di belakang dalam diam.
Gadis itu masih memasang ekspresi dingin dan datar di wajahnya seolah tidak memperdulikan suasana berkabung yang menyesakkan. Tapi semakin menjauh dari sana, perlahan tirai transparan yang menyembunyikan kenyataan darinya, sedikit demi sedikit tersingkap dan dunia mimpi seolah pudar menghilang dalam jelasnya guratan warna kebenaran terbentang di depan pelupuk mata yang malah mengabur.
Air mata menetes dalam diam.
Langkah terhenti. Mata Rei menangkap sosok Arashi Ritsu berpakaian serba putih terduduk diam di atas rumput pekarangan mansionnya yang luas. Dan baru kali itu pertama kalinya sejak pagi, Rei mendapati penuh kesadarannya kembali. Walaupun demikian, gadis itu masih terpaku di tempat.
Kirito menatap sang nona muda lalu ke Arashi yang masih belum menoleh meskipun jelas ia menyadari kehadiran mereka di sana. Pandangan mata sang butler tampak sendu. Ia hanya membungkuk sedikit, lalu berbalik menjauh, meninggalkan dua sosok itu di sana.
Kemudian saat itu juga, dengan gerakan perlahan seolah tidak mengusik udara, Arashi menoleh. Matanya yang bening dan misterius menatap lurus pada Rei yang hanya bisa menatap balik dengan pandangan nanar. Di wajah surreal cowok itu terbias senyuman simpatik dan menenangkan. Senyuman yang bisa meluruhkan hati yang dingin. Senyuman yang ironisnya terlalu putih bagi gadis itu.
Tidak ada kata terucap dan Rei masih terpaku di sana.
Angin musim gugur berhembus perlahan. Arashi menengadahkan kepala ke langit biru yang bersih tanpa awan, mengalihkan perhatian dari Rei. Gembok dan bandul persegi panjangnya beradu saat ia melakukan hal itu, seperti bunyi bel samar. Cowok itu menutup mata, merasakan belaian udara bergerak itu mempermainkan rambut blue blacknya.
“Hidup itu… seperti kunang-kunang…” Suara bariton memecah kesunyian; dengan nada tenang sedikit pahit. “Saat kau merasakan arti hidup itu sendiri… semua berakhir…” Mata bening terbuka perlahan bersamaan dengan satu tetes air mata yang turun. “Keindahan yang fana…”
Rei perlahan melangkah, jatuh terduduk di samping Arashi yang masih menatap ke langit. Gadis itu tidak menanggapi, tidak tersirat di wajahnya untuk berkata memotong perkataan cowok itu.
“Orang-orang selalu bilang manusia bisa hidup dalam kenangan. Mereka bisa hidup abadi di sana. Tapi kupikir itu terlalu menyakitkan. Seperti memeluk ilusi. Walau kau ingin merengkuhnya kembali dalam genggaman, tapi semua lolos begitu saja seperti angin…”
Mata Rei lurus menatap Arashi dan gadis itu seolah bisa menatap topeng di wajah cowok itu perlahan mulai luruh, memperlihatkan wajah yang sebenarnya. Ironis sekali. Justru di saat yang tidak terduga, Rei bisa melihat sosok Arashi Ritsu yang sebenarnya.
“Walaupun perasaan ini masih kupertahankan. Tapi hanya itu saja yang tersisa. Hanya itu saja…” Arashi menoleh ke Rei yang ada di sampingnya, menunjukkan ekspresi sayu. Senyumnya rapuh, seolah bisa hancur kapan saja. Tangannya agak bergetar ketika diulurkan menyentuh wajah Rei. “…hanya itu saja…”
Entah ada dorongan apa, Rei langsung menarik Arashi dalam pelukannya. Erat. Tangis gadis itu membuncah saat itu juga. Ia membenamkan wajahnya di bahu Arashi yang hanya balas memeluknya ringan. Rei menyadari, bukannya Arashi yang meluruhkan topeng, tapi dia sendiri. Bukannya Arashi yang membuka hati melainkan dia sendiri. Bukannya Arashi yang menangis melainkan dia sendiri.
Arashi tersenyum pahit. “Aneh ya….,” sahutnya lirih. “Memeluk Anda seperti ini… seolah saat ini saja aku bisa memeluk kenangan yang selalu berupa bayang-bayang menyebalkan…”
Rei masih menangis. Entah ia mendengarkan kata-kata itu atau tidak.
“…arigatou…”
Pelukan itu semakin erat seolah tidak akan terlepaskan.
~*+*~
Begitu Rei membuka mata. Ia sempat berpikir kejadian kemarin hanya mimpi. Tapi ketika menyadari bahwa pakaian berkabung masih melekat di tubuh, Rei mengenyahkan asumsi menyesatkan tersebut dan kembali pada kenyataan. Ayahnya sudah tidak ada. Setidaknya fakta itu sudah bisa diterimanya.
Beringsut turun dari tempat tidur, matanya menangkap sesuatu di atas meja kecil di dekat jendela. Rei langsung bergegas menghampiri; ternyata sebuah surat, sebuah kalung kulit, sebuah botol kaca tanpa nama, lalu sebuah tape recorder.
Jantung Rei berdebar keras. Pikirannya langsung tertuju pada satu nama. Arashi Ritsu.
Kepada Serizawa Rei-sama,
Aku minta maaf soal Kirito-san. Aku tidak bermaksud untuk mempermainkannya. Dia hanya terlalu mirip dengan teman lamaku dan aku sedikit merasa ingin dimanjakan olehnya. Dia tidak bersalah. Dia butler yang sangat baik.
Kemudian, aku turut berduka cita soal ayah Anda. Walau tidak pernah berjumpa, tapi dia ayah yang lumayan baik walau bukan ayah yang paling baik.
Rei-sama, aku akan memberitahu Anda satu kebenaran. Ayah Anda dibunuh oleh Serizawa Chieko-sama dengan racun yang sama dengan yang di botol kaca yang kusertakan bersama surat ini. Kemudian semua bukti ada di tape recorder.
Untuk saat ini, hanya itu yang bisa kulakukan untuk Rei-sama.
Mengenai penyerahan bukti pada polisi, semua tergantung Anda.
Saat Anda membaca surat ini, aku mungkin sudah pergi terlalu jauh untuk bisa Anda kejar.
Sebenarnya, aku tidak membenci gadis seperti Anda. Hanya saja, kita bertemu dalam waktu dan situasi yang sangat tidak cocok.
Semoga kita bisa bertemu kembali suatu hari nanti.
Saat itu… semoga… aku sudah bisa menganggap kenangan hanyalah kenangan… sehingga aku akan benar-benar bisa ‘melihat’ Anda.
Narumiya Ritsu.
Tes.
Tulisan itu mengabur di beberapa tempat akibat air mata.
Rei mendengus geli.
“Baka Hyou-Kun”
Ia mendekatkan surat itu dan menciumnya. Air matanya makin deras mengalir, menuruni tebing pipi yang menghangat. Rona merah muda yang mengaburkan gurat kaku di wajah gadis itu. Bibirnya menyunggingkan senyum. Kali itu senyuman yang sangat tulus, seolah untuk pertama kalinya Seriazawa Rei tersenyum dari lubuk hati.
Ia berbisik, “Kau tidak mengucapkan ‘sayonara’. Hyou-Kun, akan kupegang itu sebagai janji kita pasti akan bertemu lagi. Saat itu, kau akan benar-benar kujadikan peliharaanku satu-satunya”
The End.
By Natsu^^v on 25th May 2011 at 9:45 PM according to my room’s clock.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar