Jumat, 16 November 2012

[original fiction] TenSHI : DANDELION


Tangan mungil putih bersih terulur gemulai, menggenggam ringan setangkai bunga dandelion yang sudah berubah menjadi bola bulu putih lembut yang rapuh lalu mencabutnya, memisahkannya dari badan tanaman yang menangis bisu dalam perpisahan kecil itu.

Fuuuhh


Satu hembusan ringan, biji-biji bersayapnya beterbangan memenuhi sphere tak kasat mata di sekeliling anak perempuan itu. Mata sendu tampak berkaca-kaca. Senyum pahit terulas samar. Ia kemudian berdiri membentangkan tangan dan berputar dalam gerakan seolah lambat; rok putihnya melambai-lambai mengoyak udara di sekeliling yang penuh dengan biji dandelion yang masih melayang-layang dalam diam. Waktu seolah tersendat pemandangan itu bahkan gemericik air sungai pun samar terdengar; mungkin karena begitu miris, mungkin karena begitu menyedihkan, mungkin karena begitu...begitu...indah.

Tep

Satu langkah asing menghentikan gerakan sang gadis yang langsung berbalik; di belakangnya biji-biji dandelion perlahan turun dan sphere tak kasat mata di sekelilingnya kembali tak kasat mata. Senyum pahit kembali terulas samar di bibir tipisnya. Mata sendu itu terpaku pada sosok pemuda di depan yang hanya balik menatap dalam diam. Tidak ada pertukaran kata, bahkan untuk sekadar mengusik kesunyian agar menjelaskan bahwa semua adalah nyata dan ilusi tidak pernah membutakan panca indera mereka.

Pemuda itu kembali melangkah sampai akhirnya terhenti beberapa meter dari sang gadis. Mata hitam bening yang sama sendunya namun seolah ada ketegaran yang tak tergoyahkan tersirat jelas dari pupil yang digerakkan ke bawah perlahan. Ia membungkuk, mengambil sebatang dandelion yang hanya bisa mendesirkan tangis bisu ketika harus berpisah dari badan tanaman.

Fuuuuhh

Satu hembusan ringan, dan dengan bantuan angin yang bertiup lembut namun terasa pekat, biji-biji dandelion bersayap itu melayang menerpa sang gadis yang langsung menyunggingkan senyum lebih lebar; sphere tak kasat mata di sekelilingnya kembali tidak jadi tak kasat mata. Gadis itu membentangkan tangan dengan kepala tengadah dan mata tertutup, merasakan dengan hati dirinya yang dilingkupi ratusan biji dandelion bersayap yang putih bersih. Yang putih bersih...

Ia berputar sekali dengan gerakan anggun yang disengajakan lambat, seolah sebenarnya enggan berhenti. Kedua tangan terkulai di samping. Mata terbuka, langsung ditujukan pada sosok pemuda di depan yang masih balik menatap dengan mata hitam bening yang sendunya sama dengan dirinya. Senyum pahit terulas di bibir tipis gadis itu; hanya kali ini sedikit lebih lebar dan sedikit lebih lega tapi sedikit lebih menyedihkan dari sebelumnya. Ia membuka mulut dan mengucapkan sesuatu tanpa suara. Kemudian bersamaan dengan terkatupnya bibir tipis itu, angin berhembus lebih kuat, menerbangkan semua biji-biji bersayap dandelion yang putih bersih di tepi sungai itu, menyelubungi sang gadis sampai seolah sosoknya berubah menjadi biji-biji dandelion yang berpusar kuat dipermainkan angin.

Satu senyum terakhir kemudian hilang.

Biji-biji bersayap dandelion yang putih bersih terbang jauh ke langit dalam diam dan gemericik air sungai yang teredam sampai samar.

Pemuda itu tengadah menatap langit biru yang kini di matanya terlihat sedikit kabur; apakah karena dandelion? Ataukah karena...

(satu tetes air mata mengalir dari mata hitam beningnya yang sendu)

Terima kasih kau mau datang untukku...

Suara nostalgi itu hanya tinggal gema bisu di sudut ingatan.

-tamat-
finished by natz^^v on Friday 22nd April 2011 at 17:18 pm
in a certain cyber cafe, in approx. 30 minutes

Tidak ada komentar:

Posting Komentar