Jumat, 16 November 2012

(fanfiction?) Broken (part 1/2)


Fandom: (emg bs dsbut fandom? LOL) Arashi e ~ to the storm
Pairing: Arashi (Narumiya) Ritsu X Serizawa Rei (OC deyadaisuke)
Rating: PG-15 (natz ragu sih...)
Summary: Apa yang akan terjadi jika sesuatu yang berharga kembali terenggut dari dirinya?
Warning: SEMUA CHARA YANG ADA DI SINI LUMAYAN ABNORMAL (LOL) dan semua plot serta karakter serta tulisan natz yang pegang hak cipta yo =)) =)) and no offense terhadap nama dan tempat yo =)) =))

Part 1

Tangan yang menggenggam bergetar hebat. Air mata menetes dari mata hitam bening yang berkilat oleh kesedihan. Desisan putus asa terselip keluar dari bibir yang kaku, seolah tidak bisa membentuk satu kata pun dari riuh suara dalam kepala. Narumiya (Arashi) Ritsu hanya bisa terdiam, tergagu paksa di sana, sesekali mengecup tangan mungil putih dalam genggaman dengan ekspresi sendu.


Narumiya Saori tersenyum lemah. Dengan tangan satunya lagi yang diangkatnya dengan susah payah, ia membelai wajah cowok itu, berusaha menguraikan kusut kesedihan di sana namun tampaknya sia-sia. Betapa, gadis itu sangat mencintainya dan betapa ia mengutuk apapun yang membuatnya harus pergi meninggalkan satu-satunya harta berharga tanpa diijinkan untuk menjaganya lebih lama. Di saat akhirnya mereka berhasil mengikatkan benang merah ke jari kelingking masing-masing, ternyata masih ada tembok besar yang dengan gigih memisahkan mereka kembali, mengoyak benang merah rapuh itu sampai putus.

“…gomen ne, Arashi-Kun…”

“Sa—“ Cowok itu menggeleng keras.

Menghela napas berat, cewek itu melanjutkan dengan susah payah hampir berbisik, “…jangan melakukan hal aneh…setelah aku pergi…ya? Kumohon…” Air mata baru mulai menetes, menelusuri bekas tangis di pipi yang belum lagi sempat kering. “Aku…mencintaimu…”

“…Saori…” Satu kata akhirnya terselip dari tenggorokan yang tercekat. “Saori…” Dua kata; silabel-silabel yang sama. Arashi menatap nanar saat gadis di depannya mulai menutup mata, tersenyum lemah. Tangan yang digenggam mulai terkulai seolah tidak lagi ditopang oleh kehidupan.

“…Saori…”

“…sayonara…”—

Mata terbuka membelalak kaget dalam keremangan. Napas memburu seolah hampir merobek paru-paru. Arashi perlahan duduk, menekan pelipisnya agak keras dengan tiga jari. Mata terpejam, ekspresinya pahit. Ia bahkan tidak memperdulikan dingin yang perlahan memeluk tubuh telanjangnya. Sebaliknya, mungkin ia memang sengaja membiarkannya demikian.

Terdengar gemeresak.

“Un… Ricchan? Ada apa…?” Tampak setengah tertidur, kepala seorang wanita yang lebih tua dari Arashi menyembul dari balik selimut. Ia bangkit, selimut tersingkap dan menampakkan kulit putih yang tidak terbalut sehelai kain pun. Wanita itu mendekat, meletakkan tangan di wajah Arashi. “…nee…?”

Ekspresi cowok itu berubah drastis dengan cepat. Dengan wajah kharismatiknya yang terlampau surreal, Arashi tersenyum manis. “Tidak ada apa-apa, Chieko-sama” Suara yang tenang.

Wanita itu langsung menarik kedua ujung bibirnya membentuk senyuman puas. Ia beringsut lebih dekat dan langsung mencium Arashi, mendorongnya sampai mereka berdua akhirnya berbaring lagi. Wanita itu menjauhkan wajahnya sebentar, membelai rambut cowok (bercat blue black) itu dengan gerakan menggoda. Jarinya meluncur cepat di kulit cowok itu, menyentuh kalung kulit yang melingkar pas di leher Arashi dan memainkan bandul perak kecil persegi panjang yang menggantung dekat gembok mungil yang berkilat dalam keremangan. Ada nama terpahat di bandul itu: “Serizawa Chieko".

“Nee? Buat aku puas lagi?”

Arashi kembali tersenyum, menyelipkan tangan melingkari pinggang mungil wanita yang bernama Chieko itu. “Sesuai perintah Anda, Chieko-sama”

Tertawa kecil, wanita itu berkata dengan kepuasan yang makin jelas, “Kau memang peliharaanku yang paling penurut, Ricchan”

Arashi tersenyum. “Suatu pujian bagi saya. Arigatou”

Mereka berciuman lagi, lebih bergairah kali ini, sementara bias kebiruan pagi hari mulai merayap malu-malu menembus gorden putih yang bisu.

~*+*~

Ketika ayahnya memutuskan untuk menikah lagi, Serizawa Rei tidak protes. Ketika tahu bahwa ibu tirinya hanya beberapa tahun lebih tua darinya, gadis itu lagi-lagi hanya bungkam. Ketika tahu bahwa seorang Chieko hanya mengincar nama Serizawa beserta segala kemewahan dari label itu, kembali gadis itu tidak berkomentar. Namun, akhirnya Rei tidak bisa tinggal diam ketika wanita tidak tahu diuntung itu diketahuinya diam-diam menjalin hubungan dengan beberapa pria muda yang selalu disebutnya ‘peliharaan’.  Akan tetapi, bukannya mengadu pada sang ayah, Rei malah hanya mengajukan syarat: kalau Chieko mau menurut padanya, Rei tidak akan memberitahu ayahnya dan gadis itu akan membiarkan Chieko menitipkann ‘peliharaan’nya di mansion pribadi Rei sementara wanita itu kerja atau lebih tepatnya menghamburkan uang.

Selama setahun semenjak perjanjian konyol itu, Rei menyadari bahwa Chieko tidak puas hanya dengan satu peliharaan saja. Setiap sekitar dua tiga bulan, gadis itu selalu melihat wajah baru. Chieko adalah wanita yang cepat bosan, tapi Rei bersyukur ia bukan penganut harem laki-laki. Hal itu berarti mansion-nya tidak akan menjadi penuh oleh wajah-wajah asing yang tidak mengenakkan itu. Hampir semua peliharaannya hanyalah cowok miskin yang menjual diri demi uang dengan modal tampang. Itu tergores jelas di muka dan gerak-gerik mereka. Menggelikan bukan?

Lalu kenapa Rei berbuat ‘baik’ dengan menawarkan sebuah ruangan di mansion untuk jadi kandang mereka? Tidak ada alasan khusus, dan jelas bukan karena ia juga menaruh perhatian pada cowok-cowok rendah itu apalagi wanita tidak tahu diuntung itu. Rei hanya ingin menyenangkan dirinya sendiri. Ia suka menertawai dalam hati, memandang rendah seolah ia adalah satu-satunya ratu yang berkuasa di sana. Chieko saja tunduk padanya. Peliharaannya tentu saja akan lebih patuh. Menyenangkan bukan?

“Aku sudah selesai” Gadis itu bangkit. Seorang butler menarik kursi menjauh memberi ruang padanya untuk keluar. “Kau” Matanya tertuju pada cowok yang masih makan dengan tenang jauh di ujung meja yang panjangnya hampir mencapai 4 meter.

Rei berhenti sebentar, menatap keberadaan itu agak lebih lama dari yang seharusnya. “Nanti makan siang,” lanjutnya dengan nada masih datar dan dingin. “Kau yang masak. Masakan perancis. Aku tidak perduli kau bisa atau tidak. Sepulang aku kuliah, masakan itu sudah harus terhidang di meja ini. Mengerti, ‘Hyou’-kun?” (Hyou=Leopard)

Arashi berhenti. Ia menoleh pada Rei, balas menatap dengan mata beningnya yang misterius. Bibirnya membentuk senyuman manis dengan ekspresi tenang-dewasa yang dapat membuat napas terhenti sejenak. “Saya mengerti. Nona” Suara bariton seduktif itu selalu mengesankan.

Gigi Rei beradu. Rahangnya dikatupkan agak erat. Tak lama, ia pun segera berbalik dan mulai berjalan keluar dari mansion megah yang suram itu. Si butler masih mengikuti dari belakang, berhenti di depan mobil sport merah mewah milik Rei, membukakan pintu untuk sang Nona Muda. Sebelum masuk, gadis itu menoleh pada butler yang tampaknya usianya hampir sama dengannya.

“Jangan pernah membantunya,” perintahnya dingin. Wajah manisnya terbiaskan garis ekspresi yang tegas dan kaku. “Mengerti, Kirito?”

Cowok itu membungkuk dalam. “Saya mengerti, Rei-sama”

Gadis itu langsung melesat masuk ke dalam mobil, membiarkan Kirito menutupkan pintu untuknya. Lalu mobil pun berderum pelan.

“Itterasshaimase”

Rei bahkan tidak berbalik menatap butler itu lagi saat mobil mulai melaju. Ia beringsut duduk di pojok, bersandar sambil menyilangkan kaki; tangan terlipat sembarang di pangkuan. Matanya mengawasi kelebatan-kelebatan pemandangan buram melalui jendela mobil, tapi pikirannya tidak tertuju pada kaledioskopa tersebut. Sosok seorang cowok terbayang tepat di pelupuk mata. Ya, siapa lagi kalau bukan sosok bernama Arashi Ritsu?

Sudah ada satu bulan sejak Chieko membawa peliharaannya yang keempat itu ke mansion. Sebelumnya Rei sudah menduga pemuda seperti apa, karena bukankah hampir semua peliharaan seorang Serizawa Chieko itu orang miskin yang hanya bermodal tampang dengan sikap serta sifat yang membuat muak? Namun Rei salah. Cowok bernama Arashi Ritsu itu sangat jauh dari bayang kemiripan dengan peliharaan-peliharaan sebelumnya. Rei sempat terpana.

Jika orang bisa diibaratkan seekor binatang peliharaan, Rei menganggap Arashi itu Leopard putih. Keindahan yang tampak seolah di luar akal. Pembawaan yang dewasa dan tenang dengan mata hitam bening yang menusuk namun sangat misterius juga wajah tampan kharismatik, sanggup membuat bahkan Serizawa Rei sempat terpaku di tempat.

Apakah itu dalam senyum manis? Apakah itu dalam suara bariton menggoda? Apakah itu dalam mata hitam bening? Apakah itu dalam penampilan yang jauh di atas rata-rata hampir surreal? Apakah itu dalam aliran gerakan yang bagai air? Rei tidak tahu pasti. Meski tidak terucap, Rei jujur pada diri sendiri, ia ‘terhisap’ oleh pesona cowok bernama Arashi Ritsu. Ia ‘tertarik’. Walau sekonyol apapun itu kedengarannya.

Bibir gadis itu membentuk senyum simpul.

Akan sangat menyenangkan jika ibu tirinya tidak cepat bosan dengan Arashi. Ia bisa mengerjai cowok itu lebih lama. Rei menyukainya karena itu ia ingin mengerjai sampai pemuda itu meruntuhkan ketenangan serta kedewasaannya. Ya, Rei hanya ingin mencoba meruntuhkan tirai itu. Ia ingin mengetahui segala sisi pemuda bernama Arashi Ritsu kemudian menjadikan cowok itu miliknya. Well, dalam artian ‘peliharaan’ yang sebenarnya, bukan partner bercinta. Rei tidak memiliki hobi demikian.

~*+*~

Arashi bangkit dari tidur siangnya yang nyaman di sofa empuk ruang tengah yang luasnya hampir selapangan futsal. Ia menatap jam antik di depan dan tersenyum, agak menyerupai seringaian nakal.

Satu jam sebelum Serizawa Rei pulang dari kuliah.

Dengan gerakan ringan, ia berdiri lalu melangkahkan kaki santai ke tempat yang seharusnya dapur bukannya display counter peralatan makan dan peralatan masak. Membungkuk, ia mulai membuka-buka lemari, mencari-cari sesuatu.

Jika dibilang ia menuruti apa kemauan Rei, sebenarnya tidak sepenuhnya begitu. Arashi menganggap gadis itu hanyalah seorang nona besar yang jika cowok itu bersikap manis maka sang gadis tidak akan macam-macam. Arashi masih butuh tempat itu untuk tinggal.Cowok itu masih butuh Chieko sebagai mainannya, walau dalam kenyataan yang terjadi dialah ‘objek’ bukan ‘subjek’ seperti apa yang sebenarnya ada di otaknya.

“Kau benar-benar akan melakukannya?”

Mendengar suara agak bass itu, Arashi tersenyum namun tidak menoleh, terus mengambil bahan-bahan sekenanya yang ada di dapur. “Kenapa, Kirito-San? Kau mau membantu?”

“Rei-sama menyuruhku untuk tidak membantumu”

Arashi tertawa. Sungguh tawa yang ‘anggun’, kalau bisa istilah itu untuk menggambarkan tawa. Cowok itu akhirnya berbalik, menujukan mata hitam beningnya pada mata hitam kaku di hadapan. Kirito, tampak tidak tahan, membuang muka dengan segera. Arashi menyeringai, antara geli dan puas.

“Nee, Kirito-San” Ia berjalan mengelilingi meja dan berhenti tepat di sebelah sang butler yang lebih tinggi beberapa senti. Arashi mencondongkan tubuh tapi tidak sampai menyentuh. “Bantu aku,” bisiknya.

Kirito menghirup udara dalam-dalam. “Arashi-San, saya—“

“Kirito-San…”

Butler itu memejamkan mata, bergeser untuk menghindari Arashi akan tetapi cowok itu malah segera menutup jarak di antara mereka (lagi). Kirito merasa jantungnya berdebar keras dan kepalanya berputar hampir kosong. Apakah karena aroma cologne Arashi yang membuatnya begitu? Atau justru memang karena keberadaan Arashi sendirilah yang membuatnya begitu?

Tangan Arashi menyentuh tangan Kirito.

“Boleh kok,” sahut Arashi dengan suara yang tenang. “Memelukku. Aku bi. Pengalamanku…lumayan…”

Sungguh suara yang seolah bisa menghipnotis. Kirito mengatupkan rahang lalu menghirup napas dalam-dalam untuk menenangkan hati dan menjernihkan pikiran. Ia tidak boleh jatuh dalam perangkap leopard putih itu. Dia memang berbeda dengan peliharaan-peliharaan sebelumnya dan Kirito adalah salah seorang butler keluarga Serizawa yang terkenal ‘kaku’ dan ‘keras’. Dia tidak akan jatuh ke perangkap yang disiapkan oleh si jenius sekalipun. Langsung bergeser menjauh, Kirito menyahut agak keras, “Arashi-San, kau tidak diperkenankan—“

Belum lagi ia menyelesaikan kalimatnya, Kirito merasa lengannya ditarik agak kuat. Dan sebelum ia menyadari apa yang terjadi, bibir Arashi Ritsu sudah mengunci bibirnya dalam ciuman yang tidak bisa dibilang ringan.

Kirito jatuh.

Akhirnya.

Zrak!

Suara buku jatuh itu mengagetkan Kirito yang cepat-cepat menjauh lalu berbalik. Matanya terbelalak antara terkejut dan takut ketika di hadapan mereka berdiri Rei dengan muka tidak percaya. Kirito langsung jatuh berlutut dan dogeza di sana.

“Moshi wake gozaimasen deshita, Ojou-sama! Ini… ini tidak disengaja! Harap lupakan kejadian ini! Saya akan menerima segala hukuman tapi harap Anda lupakan!”

Masih diam, Rei hanya menatap nanar pada Arashi yang masih berwajah tenang dengan senyum manis tersimpul di bibirnya. Cowok itu tampak tidak sekali pun merasa bersalah atau merasa terhina atau merasa terpojokkan. Dan Rei tidak punya gambaran tentang sikap Arashi yang demikian. Semua di luar prediksi.

“Okaerinasai, Rei-sama,” sahut Arashi dengan suara bariton yang tenang menghanyutkan. Sepertinya ia sudah lupa dengan niat untuk bersikap manis pada sang Nona Muda. Niat itu lenyap ketika dilihatnya ekspresi Rei. Arashi jadi ingin menggodanya. Ia tidak takut akan kehilangan tempat tinggal karena toh sebenarnya Arashi tahu Rei menaruh ‘perhatian’ padanya. Cewek memang gampang ditebak.

-to be continued-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar