Inside me, there's still other one exist And she's the one I always spoil and forever love to an extend I made this blog for her ;"P
Jumat, 16 November 2012
(Original Fiction) Ayo Kita Berteduh!
Title : Ayo Kita Berteduh !
Author : natz LOL (I won't disclaim, because all charas and plot are mine =)) )
Genre : hmm... general, SU, PG lah!
Type : multi-drabbles
AN : tersinspirasi satu bait dari lirik 'Ai no Shizuku'nya MakiChang ---> "Ame ni utarete yorokobu kasa" (Payung yang senang karena terhujam hujan)
Payung Pink Bermotif Hati
Zraaass!! Zraaaasss!!
Bah. Hujan hari ini kejam sekali. Duh, tubuhku sakit tahu! Berat! Walau aku lebih suka basah daripada terpanggang, tapi tetap saja kalau yang ini aku nyerah! Tuhan, tolong berbaik hati sama aku untuk kali ini saja!! Ah, lihatkan? Kawat-kawatku mulai goyang, sedikit lagi bengkok! Pakaian anti airku yang bagus mulai terkotori daun-daun kering yang melayang karena angin ribut.
Ukh. Hiks.
“Hei, bertahanlah. Aku masih membutuhkanmu”
Suara lirih itu menyadarkanku. Aku tercenung pada anak laki-laki yang berjalan di bawahku, menggenggam erat diriku dengan tangannya yang sedikit gemetaran karena dingin, sedangkan tangannya yang lain menuntun neneknya yang tampak kesusahan berjalan. Tubuh mereka hampir semua basah, namun mereka masih teguh bergantung padaku. Aku jadi merasa malu karena terlalu egois tadi. Aku hampir gagal menjalani tugasku.
Tuhan, tolong berbaik hatilah sedikit…
Berikan hujan yang lebih lembut.
Ya?
~*+*~
Payung Transparan
“Ah! Gagal lagi! Sudahlah!”—tumpukan dokumen itu dihempaskan di atas tempat duduk di sampingnya di halte bis. Ia sedang berteduh dari hujan yang mulai turun perlahan menghujam bumi. Ah, tidak, lebih tepatnya sedang meratapi nasib tawaran kerjanya ditolak oleh berbelas-belas perusahaan (lagi). “Percuma seperti ini. Aku tidak bisa pulang kalau begini… Kalau ibu dan ayah menanyakan aku tidak tahu harus menjawab apa lagi…” Kedua tangan ditekankannya ke pelipis dengan gerakan agak kesal.
Aku sangat mengenalnya dengan baik. Aku telah menemaninya semenjak tahun terakhir ia kuliah di universitas ternama. Perempuan yang sangat rajin, cerdas, namun terlalu memaksakan diri. Seperti sekarang ini. Sebenarnya aku kasihan padanya. Ingin saja aku juga ikut memohon agar ia dipekerjakan saja. Dia rajin! Dia cerdas! Hanya saja dia sering terlalu memaksakan diri tapi dia pasti bekerja dengan sangat baik!
…tapi jelas suaraku tidak bisa terdengar, kan?
Ah, hujan. Bahkan karena terlalu dipusingkan dengan hal itu, ia tidak memperhatikan baik-baik keajaiban Tuhan yang satu ini. Air tercurah dari langit. Sederhana, tapi itu juga merupakan keajaiban yang jika kau meresapinya baik-baik kau pasti akan merasa takjub dan hatimu akan dipenuhi perasaan ringan, sejenak melupakan persoalan keduniawian.
Dengan bantuan gravitasi yang seolah mengerti perasaanku, aku bergeser menyentuh pahanya. Ia tampak kaget.
Hey! Ayo kita melihat hujan!
“Ah…ya, aku harus pulang. Ibu sedang sakit. Beliau butuh bantuanku untuk memasak makan malam…” Ia tersenyum lalu berdiri sambil meraihku kemudian dengan gerakan perlahan membukaku. Ia berjalan masuk menembus tirai air. Sebelum kembali melangkah lebih jauh, ia tengadahkan kepala menatap langit kelabu menembus pakaian anti-airku. Perlahan, ia tersenyum. “Mendung… tapi entah kenapa indah sekali…”
Ya. Selama langit tetap langit dan bumi yang kau pijak tetaplah bumi, masih ada banyak kemungkinan terjadi dalam kehidupan. Kalau kau lelah dengan sekitar, keluarlah dan tatap langit. Jangan takut basah atau kepanasan, aku akan menemanimu. Berjuanglah.
---maybe more drabbles will come LOL /whacked
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar